PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang
memiliki tingkat kerawanan bencana alam paling tinggi di dunia, terutama
terhadap gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan banjir. Faktor utama dari
kondisi ini adalah letak geografis Indonesia yang berada di wilayah Cincin Api
Pasifik, yang ditandai dengan tingginya aktivitas gunung berapi dan pergerakan
lempeng tektonik. Di antara wilayah-wilayah yang rawan tersebut, Sumatera Barat
menempati posisi yang cukup rentan terhadap gempa dan longsor. Hal ini berkaitan
dengan posisi geografisnya yang berada di zona patahan aktif serta
karakteristik alamnya yang terdiri dari perbukitan dan pegunungan, yang sangat
mudah terkena longsor, terutama saat musim hujan yang intens. Di samping itu,
aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, seperti
pembukaan lahan yang tidak terkendali dan pengelolaan lahan yang kurang baik,
turut meningkatkan potensi bencana.
Bencana di Sumatera Barat tidak hanya menyebabkan
kerusakan fisik seperti hancurnya permukiman, infrastruktur, dan lahan
pertanian, tetapi juga mengancam keselamatan warga serta menimbulkan dampak
sosial dan ekonomi yang serius. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi risiko
dan menangani bencana menjadi sangat krusial. Pemerintah, baik di tingkat pusat
maupun daerah, memegang tanggung jawab utama dalam penanggulangan bencana
melalui kebijakan, penyediaan anggaran, dan pelaksanaan kegiatan tanggap darurat.
Namun demikian, kemampuan pemerintah seringkali terbatas, khususnya dalam
menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau kurang terakses.
Seiring perkembangan, peran LSM dalam pembangunan
mengalami pergeseran. LSM tidak lagi hanya menjadi pengawas kebijakan
pemerintah, tetapi juga tampil sebagai mitra dalam pelaksanaan program
pembangunan, termasuk di bidang kebencanaan. Tiap LSM memiliki pendekatan yang
berbeda sesuai dengan nilai dan prinsip yang dianutnya. Keberadaan mereka
sangat dibutuhkan untuk menjangkau area dan kelompok masyarakat yang luput dari
perhatian pemerintah, terutama dalam bidang edukasi, advokasi, dan
pendampingan.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk
menggambarkan dan menganalisis kontribusi LSM dalam penanganan bencana di
wilayah-wilayah yang rentan terhadap gempa dan longsor. LSM memiliki peran
penting sebagai pelengkap langkah-langkah yang diambil pemerintah. Mereka
terlibat dalam memberikan pelatihan kesiapsiagaan, penguatan kapasitas
masyarakat, penyaluran bantuan, hingga mendorong kebijakan yang berpihak pada
pengurangan risiko bencana.
Di Sumatera Barat, LSM lokal seperti JEMARI Sakato,
WALHI Sumbar, dan Yayasan IBU sudah terbukti aktif dalam membantu warga untuk
bersiap dan merespons bencana. Peran mereka tidak berhenti pada tahap reaksi
pasca-bencana, melainkan juga aktif dalam kegiatan preventif seperti pelatihan
evakuasi mandiri, pembuatan peta risiko yang disusun bersama masyarakat, dan
pembentukan tim relawan lokal seperti Kelompok Siaga Bencana. Langkah-langkah
ini bertujuan meningkatkan ketangguhan masyarakat agar mereka dapat bertindak
mandiri dan aktif dalam mengurangi dampak bencana.
Di samping itu, LSM juga bergerak dalam upaya advokasi
kebijakan untuk mendorong regulasi yang mendukung pengurangan risiko bencana
dan pelestarian lingkungan. Mereka turut menyuarakan pentingnya perencanaan
tata ruang yang ramah lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang
berkelanjutan. Kolaborasi antara LSM, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat
menjadi elemen penting dalam menciptakan sistem penanggulangan bencana yang
menyeluruh dan inklusif.
Penelitian ini berfokus untuk melihat lebih dalam bagaimana LSM berperan dalam penanggulangan bencana, terutama di wilayah rawan seperti Kabupaten Agam dan Pasaman Barat. Dengan menyoroti kontribusi mereka dalam bidang pendidikan kebencanaan, respon darurat, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi kebijakan, studi ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai peran mereka. Selain itu, hasilnya diharapkan menjadi rekomendasi untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan LSM dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin meningkat, terutama di tengah perubahan iklim yang memperparah kondisi alam.
Hasil dan Pembahasan
Menurut Noolen Heyzer yang dikutip oleh Affan Gaffar,
terdapat tiga bentuk peran utama yang dijalankan oleh Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM). Pertama, LSM berperan dalam mendukung serta memperkuat
kapasitas masyarakat di tingkat akar rumput, yang merupakan bagian penting
dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan. Kedua, LSM memperluas pengaruh
politik melalui jaringan kerjasama, baik di dalam negeri maupun dengan lembaga
internasional. Ketiga, LSM turut terlibat dalam menentukan arah serta
merumuskan agenda pembangunan. Karena peran-peran tersebut, keberadaan LSM
dalam pelaksanaan program pembangunan di negara-negara berkembang seringkali
mengalami pergeseran fungsi, dari sekadar mitra masyarakat menjadi agen yang
membawa kepentingan kapitalisme, terutama dalam menjangkau wilayah-wilayah
terpencil yang minim akses.
Menurut Arfriani Maifizar (2019)
ada tiga strategi pendekatan yang musti dilakukan LSM yaitu : pertama,
pendekatan kesejahteraan (the welfare approach) atau pendekatan pada
pemberian bantuan kepada kelompok tertentu yang terkena musibah seperti
kelaparan, bencana alam, peperangan, dan lain sebagainya. Pendekatan tersebut
bertujuan untuk memberdayakan rakyat dalam menghadapi proses pemiskinan rakyat
dan bukan memberikan kekuatan atau kemampuan dalam mengumpulan dana bantuan.
Kedua, pendekatan pembangunan (the developmental approach), yaitu
memusatkan program kegiatan pada pengembangan proyek pembangunan yang bertujuan
meningkatkan kemampuan, dan kemandirian masyarakat. Ketiga, pendekatan dalam
konteks pemberdayaan pembangunan (the empowerment approach) yang melihat
kemiskinan sebagai akibat proses politik dan berusaha memberi kekuatan atau
melatih rakyat untuk mengatasi ketidakberdayaannya.
Pemberdayaan dalam konsep ini
tidak hanya meliputi individu atau kelompok masyarakat lapisan bawah (grassroots),
pinggiran (peripheries), dan perdesaan (rural communities)
sebagai target program, namun juga semua kalangan yang ada di masyarakat
termasuk dirinya sendiri (LSM). Ini dilakukan demi mempertahankan semangat
kemandirian dengan tanpa tergantung pada pemerintah dan memperkokoh jaringan di
tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional dalam rangka menghadapi
persaingan yang semakin tajam. Pemberdayaan LSM sendiri antara lain meliputi
kemampuan untuk dapat berkembang menjadi organisasi yang efektif, independen,
dan berkesinambungan. Demi mewujudkan semua itu ada beberapa hal yang terus
diupayakan, yaitu
(1) efektivitas, keterbukaan, dan pertangunggjawaban;
(2) otonomi dan sumber dana independen;dan
(3) jaringan kerja baik jaringan kerja lokal, nasional,
regional maupun internasional.
3.1. Peran Edukasi dan
Pelatihan
Pendidikan yang bertujuan untuk membangkitkan
kesadaran dapat terwujud jika proses belajar mengajar dijalankan dengan
semangat yang membebaskan. Pendidikan seperti ini memberikan ruang bagi
pembelajaran sosial yang secara kritis menelaah struktur ekonomi, politik,
persoalan sosial, gender, serta hak asasi manusia. Saat pendidikan dipandang
sebagai dasar penting dalam berbagai aspek kehidupan, maka pendidikan memiliki
peran strategis dalam mendorong perubahan atau transformasi sosial-politik
menuju masyarakat yang lebih demokratis dan adil. Namun, di sisi lain,
pendidikan juga bisa saja digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dan
melegitimasi struktur sosial dan politik yang ada.
Hal yang menyedihkan terjadi ketika mereka yang
berasal dari kalangan ekonomi rendah tidak dapat melanjutkan pendidikan ke
tingkat yang lebih tinggi, padahal kemampuan dan prestasi mereka cukup baik.
Pada dasarnya, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang
layak dan merupakan bagian penting dari masa depan bangsa dalam memajukan
negara. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, peran LSM menjadi sangat
penting sebagai bagian dari masyarakat yang membantu proses peningkatan
kesadaran dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
LSM
seperti JEMARI Sakato dan Yayasan IBU melakukan pelatihan kesiapsiagaan bencana
kepada masyarakat di nagari-nagari rawan longsor dan gempa. Pelatihan ini
mencakup evakuasi mandiri, pemetaan wilayah risiko, penggunaan alat deteksi
dini, serta sosialisasi tanda-tanda alam yang berkaitan dengan potensi bencana.
Di Kabupaten Agam, pelatihan dilakukan secara rutin setiap tahun di Nagari
Tanjung Sani, dan hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat
terhadap langkah evakuasi yang tepat.
Data
dari BNPB tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 70% masyarakat di wilayah
rawan bencana di Sumatera Barat belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai
prosedur evakuasi dan mitigasi. Oleh karena itu, program edukasi LSM sangat
berperan dalam mengisi kesenjangan ini. Laporan tahunan Yayasan IBU tahun 2022
mencatat bahwa setelah pelatihan yang dilakukan di 5 nagari di Pasaman Barat,
terjadi peningkatan sebesar 45% dalam kesiapsiagaan rumah tangga terhadap
bencana.
3.2. Penyaluran
Bantuan dan Respons Darurat
Bantuan darurat saat bencana merupakan pemberian
kebutuhan pokok kepada korban dalam situasi tanggap darurat. Bantuan ini
meliputi bahan pangan, barang non pangan, pakaian, sanitasi dan air bersih,
serta pelayanan kesehatan. Bantuan bahan pangan dapat berupa makanan langsung
atau penyediaan dapur umum, dengan perhatian khusus kepada kelompok rentan
seperti lansia, ibu hamil, dan bayi. Agar bantuan kebutuhan dasar ini efektif,
diperlukan pedoman yang mengatur tata cara penyaluran bantuan sesuai standar
minimal. Pedoman tersebut dapat digunakan sebagai acuan oleh pemerintah daerah,
masyarakat, serta lembaga non-pemerintah di tingkat lokal, nasional, maupun
internasional. (Mappaware et al., 2020).
Pada gempa Pasaman Barat tahun 2022, JEMARI Sakato
berperan penting dalam distribusi logistik, bantuan medis, dan pendirian pos
darurat. Koordinasi cepat dilakukan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) serta relawan lokal, sehingga waktu respons terhadap kebutuhan mendesak
masyarakat dapat diminimalisasi. Bantuan yang disalurkan meliputi tenda,
makanan siap saji, air bersih, dan layanan psikososial. Selain itu, LSM JEMARI
Sakato turut memantau distribusi bantuan agar merata dan tidak terjadi penumpukan
di satu titik.
Data BNPB menunjukkan bahwa gempa tersebut menyebabkan
lebih dari 400 rumah rusak berat dan sekitar 13.000 orang terdampak. Respons
LSM JEMARI Sakato mempercepat distribusi
logistik ke wilayah-wilayah yang tidak segera dijangkau oleh pemerintah,
terutama di daerah terpencil seperti Nagari Kajai. Dalam kurun waktu dua
minggu, lebih dari 5.000 paket bantuan berhasil disalurkan oleh JEMARI Sakato
bekerja sama dengan LSM lain.
3.3. Pemberdayaan
Komunitas dan Inklusi Sosial
Menurut Harefa, Sari (2022), salah satu upaya yang
dilakukan oleh negara untuk mendukung pembangunan ruang pengetahuan adalah
dengan meningkatkan minat baca serta mengembangkan model taman bacaan
masyarakat dan gerakan literasi. Perpustakaan, sebagai salah satu bentuk taman
bacaan masyarakat, memiliki peran penting dalam memberdayakan masyarakat,
mendekatkan mereka, serta mengajak partisipasi aktif dalam memanfaatkan taman
bacaan tersebut. Hal ini menjadi salah satu cara untuk menghubungkan masyarakat
dengan konsep perpustakaan yang berbasis inklusi. emberdayaan
melalui gerakan sosial
maupun politik bisa
meningkatkan kekuatan masyarakat
dalam bentuk gerakan langsung secara bersama melalui pendekatan pengerak dan
menguatkan aktifitas secara efektif pada aspek sosial politik.
LSM memperkuat ketahanan sosial masyarakat dengan
membentuk dan mendampingi Kelompok Siaga Bencana (KSB) di daerah rawan. Program
pemberdayaan melibatkan pelatihan keterampilan tanggap darurat, penyusunan
rencana evakuasi nagari, serta pelibatan aktif perempuan dan penyandang
disabilitas. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun rasa kepemilikan
masyarakat terhadap upaya pengurangan risiko bencana. Di Nagari Malampah,
misalnya, perempuan dilibatkan dalam pengelolaan dapur umum dan logistik saat masa
tanggap darurat.
Menurut laporan Siap Siaga (2024), pembentukan KSB
oleh LSM lokal di Sumatera Barat mampu meningkatkan kecepatan tanggap komunitas
hingga 30% lebih cepat dibanding komunitas yang belum memiliki struktur KSB.
Selain itu, keterlibatan perempuan dalam dapur umum dan logistik terbukti
meningkatkan efisiensi distribusi bantuan, karena lebih memahami kebutuhan
keluarga dan anak-anak.
3.4. Advokasi dan Penguatan Kapasitas Pemerintah Lokal
Selain
kerja langsung di lapangan, LSM juga berkontribusi dalam mendorong perubahan
kebijakan. JEMARI Sakato dan WALHI Sumbar aktif mengadvokasi penguatan
peraturan nagari terkait tata ruang dan pembangunan berkelanjutan, guna
mengurangi kerentanan terhadap bencana. Mereka juga memberikan pelatihan kepada
aparatur nagari terkait penyusunan dokumen rencana kontinjensi dan pengelolaan
data risiko bencana. Hal ini berdampak pada peningkatan kapasitas pemerintah
lokal dalam merespons bencana secara sistematis dan berbasis data.
Berdasarkan
dokumen Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Bencana Sumbar 2020–2025, hanya 35%
nagari di Sumbar yang memiliki peta risiko bencana dan rencana kontinjensi.
Melalui pendampingan LSM, angka ini menunjukkan peningkatan hingga 52% pada
akhir tahun 2023. Pelatihan ini juga membuka akses bagi aparat nagari untuk
menggunakan platform data seperti InaRISK dan DIBI dalam perencanaan mitigasi
mereka.
Sebagai
salah satu elemen dalam masyarakat, NGO memiliki peran yang cukup penting,
seperti memberikan pendidikan dan membangun kesadaran masyarakat, menjadi
pendamping masyarakat, dan mengkritisi jalannya pemerintahan. Peran-peran
tersebut tentu saja terkait dengan nilai ideologis dan kepentingan yang
dimiliki oleh NGO. Melalui aktivitas-aktivitas seperti kampanye, lobi,
penyuluhan, pelatihan, dan lain-lain, NGO tidak hanya menyebarkan informasi
tentang isu-isu yang menyangkut kehidupan masyarakat, tetapi juga mengupayakan
tercapainya solusi atas sebuah permasalahan.
Tentu
saja, sebuah NGO tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Perlu dibangun
hubungan dengan NGO-NGO lainnya sehingga jejaring (networking) terbentuk.
berbagai diskusi dalam bentuk seminar, workshop, atau pelatihan dapat menjadi
wadah bagi para aktivis untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Kegiatan
ini pun menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat kemampuan NGO dalam
menjalankan segala perannya. Bahkan dikatakan oleh Fagan (2004, 25) para
aktivis mungkin akan terlibat atau memiliki hubungan dengan lebih dari satu
organisasi dan dapat aktif dalam kampanye-kampanye gerakan sosial yang lain.
Hubungan antarkelompok dan organisasi cenderung bersifat cair dan informal
Kesimpulan
LSM memiliki kontribusi signifikan dalam penanganan bencana di daerah rawan longsor dan gempa di Sumatera Barat. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam membangun ketangguhan masyarakat. Dukungan terhadap peran LSM perlu diperkuat melalui kolaborasi yang lebih baik dengan pemerintah dan dunia usaha. Selain itu, upaya edukasi dan pelatihan masyarakat yang dilakukan LSM terbukti mampu meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan warga secara signifikan, terutama di wilayah yang sebelumnya minim informasi dan fasilitas mitigasi. Peran LSM juga mempercepat distribusi bantuan secara efisien dan merata, serta memberikan solusi jangka panjang melalui advokasi kebijakan dan pemberdayaan lokal. Studi ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dan kolaboratif dalam pengurangan risiko bencana, dengan LSM sebagai katalisator utama di tingkat komunitas. Dengan mengintegrasikan peran LSM dalam sistem penanggulangan bencana daerah, maka ketahanan terhadap bencana dapat ditingkatkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
(2023). "Data dan Informasi Bencana Indonesia". Jakarta: BNPB.
https://dibi.bnpb.go.id/
Baroroh,
Kiromim (2009), Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Terhadap
Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Life Skill (Studi kasus di Lembaga
Advokasi Pendidikan Yogyakarta), DIMENSIA, Volume 3, No. 1
BNPB & UNDP Indonesia. (2020). Panduan
Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (CBDRM). Jakarta: BNPB. https://siapsiaga.or.id/wp-content/uploads/2024/05/46.-11-Buku-2-Paduan-PRBBK-.pdf
Diana, Mustika dkk. (2021), Pemberdayaan Masyarakat
melalui Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Perpustakaan Sumber Ilmu Desa
Marga Sakti Kabupaten Musirawas, TikI meu , Vol.5, No.1
JEMARI Sakato. (2024). "Laporan Program
Respon Bencana Gempa dan Longsor Sumbar". https://jemarisakato.org/author/jemari-sakato?page=5
Maifizar, Arfriani,(2019) Model Pendekatan
Lembaga Swadaya Masyarakat Dalam Penanggulangan Bencana Di Aceh, TALENTA
Conference Series.
Novianti, Kurnia, Peran NGO sebagai Bagian dari
Civil Society dalam Mitigasi Banjir di Praha, Global & Strategis, Th.
7, No. 2
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. (2023). "Rencana
Aksi Daerah Penanggulangan Bencana Sumbar 2020-2025". https://bpbd.sumbarprov.go.id/images/2023/02/file/RENSTRA_BPBD_Periode_2021-2026.pdf
Rewa, Karolina A (2023), Penyaluran Bantuan Bagi Korban Bencana Alam di Kabupaten Sumba Timur
Ditinjau Dari Perspektif Manfaat Ekonomi, Jurnal
Minfo Polgan Volume 12, No. 2
Siap Siaga. (2024). "Laporan
Dampak Program Ketangguhan Komunitas di Sumatera Barat".
Subroto, Desty Endrawati dkk
(2023), Penyaluran BantuanPeduli Kemanusiaan Korban Gempa Cianjur, Jawa
Barat, Jurnal PBMI, Vol.1No. 1
UNDRR. (2015). "Sendai Framework for
Disaster Risk Reduction 2015-2030". https://www.undrr.org/publication/sendai-framework-disaster-risk-reduction-2015-2030
WALHI Sumbar. (2023). "Laporan Tahunan
Program Penanggulangan Risiko Bencana". Padang. https://www.walhi.or.id/uploads/buku/Revisi%202_CATAHU%20WALHI%20REGION%20SUMATERA_compressed.pdf
Widyawati, W., & Winoto, Y. (2022), Transformasi
perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Rumah Baca Asma Nadia,Al-Kuttab:
Jurnal Kajian Perpustakaan
Wisner, B., Blaikie, P., Cannon, T., & Davis, I.
(2004). At Risk: Natural Hazards, People’s Vulnerability and Disasters.
Routledge. https://www.routledge.com/At-Risk-Natural-Hazards-Peoples-Vulnerability-and-Disasters/Blaikie-Cannon-Davis-Wisner/p/book/9780415252164
Yayasan IBU. (2022). "Pemberdayaan Komunitas
dalam Penanggulangan Bencana di Wilayah Rawan Sumbar". https://indonesia.unfpa.org/sites/default/files/pub-pdf/booklet_profil_pemimpin_perempuan_indonesia_dalam_penanggulangan_bencana.pdf

0 Komentar