Biodata Singkat Syekh Ali Hasan Addariy


    

        Syekh Ali Hasan Addariy

Syekh Ali Hasan Ahmad lahir di pintu Padang Juluh Kecamatan Siabu pada hari Selasa, tanggal 9 Februari 1915. Tambahan daripada namanya menandakan bahwa almamaternya adalah Madrasah Darul Ulum Makkah.

Berbeda dari umumnya ulama Mandailing Natal yang memimpin pesantren, pengajian atau persukan, tempat berkhalawat menuju ke arah kesempurnaan batin, Syekh Ali Hasan Ahmad tampil sebagai ulama yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan birokrasi, politik, dan menulis buku.

Syekh Ali Hasan Ahmad lahir dan dibesarkan dalam lingkungan ulama. Pelajaran agama yang pertama diperolehnya adalah belajar membaca juz amma dan Alquran di Lomba Dolok. Pada Lomba Kasim, gelar Haji Muhammad Kasim dan pamannya sendiri Malin Saleh gelar haji Husein, kemudian selama kurang lebih 7 bulan belajar di Madrasah Islamiyah di samping masjid raya lama Padang Sidempuan.

Satu setengah tahun berikutnya belajar di school. Pada usia 9 tahun 1924 ia belajar selama 3 tahun di Madrasah Mustafawiyah di Purba Baru pimpinan Syekh Mustafa Husain.

Pada tahun 1927 Syekh Ali Hasan Ahmad berangkat ke Mekah. Tahun-tahun pertama di Makkah ia mondok di rumah ulama yang berasal dari Rao, Syekh Safiyah Rawadi Babun Nabi, di samping Masjidil Haram.

Ketika lokasi rumah ini dibongkar untuk membangun lokasi ibadah sa'i, Ali Hasan Ahmad


 

pindah dan mondok di rumah ulama yang berasal dari Mandailing, Syekh Abdullah Ali Al Mandaili di Giat, di lokasi Rumah Sakit Umum Jiad yang sekarang.

Ahmad beberapa tahun belajar di madrasah yang didirikan oleh ulama besar asal India, Syekh Rahmatullah Al Hindi, sekaligus pindah ke asrama madrasah itu. Selanjutnya pada tahun 1938 Ali Hasan Ahmad mondok di rumah ulama asal Mandailing yang lain Syekh Abdurrahman Al mandaili yang ketika itu menetap di Negeri Perak, Semenanjung Malayang.

Ali Hasan Ahmad belajar selama 6 tahun di madrasah yang dipimpin oleh Ahmad Salim Al Hindi, cucu Syekh Rahmatullah Al Hindi, mulai dari tingkat Tsanawiyah 4 tahun sampai tingkat ismul Ali selama 2 tahun.

Syekh Ali Hasan Ahmad dan kawan-kawannya pindah Madrasah Sholeh Dia ke Madrasah Darul Ulum yang dipimpin oleh Sayyid Muhsin di Almusawa, seorang keturunan Arab dari Palembang, titik wakilnya seorang ulama asal Perangkoma Tanah Semenanjung bernama Syekh Zubair Ismail Hasan Ahmad. Itu terjadi setelah ada aksi mogok.

Ilmu fiqih diartikan oleh 7 orang guru ialah:

1.         Syekh Muchtar Bogor memakai buku riyadha tussalihin,

2.       Syekh Muhammad Fathoni asal pantai Thailand memakai buku Fathul Wahab,

3.        Jakfar belajar memakai buku irsayadul pukul,

4.       Syekh Mahmud Bukhari memakai buku ni adatul mustahid,

5.       Syekh Tajuddin Ridwan asal Muara Butung memakai buku syarkawi dan said Ali Maliki.

6.       Mata pelajaran lainnya ialah:

7.       Matik diajarkan oleh Syekh Abdul Hamid asal Pulau Pinang,

8.       Ilmu Palak oleh sesuai man Ambon memakai buku taqribul maksud,

9.       Syekh Abu Bakar Siregar asal Sipirok memakai buku hisab

10.     Syekh     khalifah     memakai      buku     Samarotil Wasilah

11.      Mata pelajaran sejarah diajarkan oleh Syekh Ahmad Arobi,

12.     Ilmu tasawuf diajarkan oleh Syekh Umar Baju Naik memakai buku syarhikam.

Sekembalinya belajar dari Makkah pada tahun 1938, pada usia 23 tahun, Syekh Ali Hasan Ahmad menikah dengan Syarifah Nasution binti Syekh Muhammad Nuh. Syekh Muhammad Nuh berlatar belakang pendidikan supi dan pendiri pondok pesantren di Gunting Salak, Kecamatan Siabu.

Pasangan yang berbahagia ini dikaruniai seorang putri, Faizah Hasibuan. Takdir Allah menemukan Syarifah Nasution wafat setelah usia perkawinan mereka baru berlangsung 3 tahun pada tahun 1958. Paija Hasibuan menikah dengan Balian Siregar bergelar, H.

M. Daud Siregar, putra Syekh Tuan Guru Nabundong

Syekh Ali Hasan Ahmad menikah lagi dengan Maria Nur Nasution binti Haji Abdullah dari Mampang. Karena tidak ada kecocokan pernikahan, ini hanya berlangsung beberapa bulan.

Perkawinannya yang ketiga dengan Jamilah, bergelar Hajjah Ramlah Hasibuan binti Haji Abdul Latif dari Simangambat, Kecamatan Siabu. Dianugerahi


 

sepasang Putri dan putra, ialah Salmawati Hasibuan dan Mahfudz Budi Hasibuan.

Titik keluarga yang berbahagia ini hidup rukun, penuh kasih sayang selama 40 tahun. Selama 27 tahun mereka tinggal di Padangsidimpuan, 8 tahun di Hutabaringin, dan 5 tahun di Medan Titik. Hajjah Ramlah Hasibuan yang sangat mendukung perjalanan karier Syekh Ali Hasan Ahmad wafat di Padang Sidempuan pada tanggal 14 April 1982.

Almarhumah Hazza Ramla Hasibuan adalah orang yang periang, dekat dengan semua kerabatnya, gigih mendukung karier suami dan tekun mendidik kedua putra-putrinya sehingga berhasil menjadi sarjana. Almarhumah adalah kakak kandung Abdul Somad Hasibuan, hakim pengadilan agama Padang Sidempuan

Ketika Hajar Ramlah Hasibuan wafat, usia Syekh Ali Hasan Ahmad mencapai 67 tahun. Namun, dalam usia itu Syekh Ali Hasan Ahmad masih terus berkarya seperti sudah disebutkan di bagian lain tulisan ini.

Untuk kedua kalinya ditinggal istri tercinta, Syekh Ali Hasan Ahmad mengalami luka yang mendalam. Titik-titik tetapi kesedihan tidak boleh berlarut-larut seorang pendamping di usia lanjut meski hadir dalam kehidupannya.

Maka atas kesepakatan anak-anaknya, Syekh Ali Hasan Ahmad menikah dengan Jamilah Lubis asal Pintu Padang Julu, sebagai pendamping yang terakhir.

Sebagai ulama sejati, Syekh Ali Hasan Ahmad adalah orang yang ditakdirkan sebagai guru (born teacher). Ia mengajarkan ilmu sepanjang hayatnya seperti telah diungkapkan di atas. Kariernya sebagai guru bermula dari mengajar di sekolahnya sendiri di


 

Madrasah Darul Ulum di Makkah. Ketika itu ia berada pada tingkat Qismul ‘Ali. Ia diberi tugas mengajar pada tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah.

Lebih dari itu, ia tercatat sebagai salah seorang pendiri Madrasah Addiniyah di Mekkah dan mengajar di madrasah itu selama 3 tahun (1935-1938). Ini merupakan kejadian yang langka, bahwa ulama Mandailing mendirikan madrasah di Makkah.

Pada tanggal 1937, Syekh Ali Hasan mengajar di Masjidil Haram. Kemudian setelah kembali ke tanah air, mengajar di almamaternya, Madrasah Musthafawiyah di Purba Baru (1938-1941). Kembali ke kampung halaman, ia mendirikan masjid di Huta Baringin Kecamatan Siabu, disusul lagi mendirikan Madrasah Ma’hadul Islahiddin di kampung itu, dipimpinya selama 9 tahun (1941-1950).

Pernah menjadi guru agama pada kompi pionir di Pulau Brayan, Medan. Kemudian selama tiga tahun mengisi acara tafsir pada setiap hari Jumat pagi dalam Mimbar Agama Islam RRI Medan.

Pada tahun 1958 bersama adik kandungnya, H. Zubeir Ahmad, mendirikan Pendidikan Guru Agama al- Iman di Padangsidimpuan, sekaligus menjadi Direktur dan pengajarnya (1958-1965). Inilah cikal bakal PGA Negeri Padangsidimpuan yang kini menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Padangsidimpuan. Mensponsori pendirian PGAN 4 tahun dibantu oleh Dahlan Batubara.

Syekh Ali Hasan Ahmad kemudian mendirikan Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam sekaligus menjadi pengajar dan Direkturnya selama tiga tahun (1958-1961) dibantu oleh Abu Sofyan Daulay. Menjadi


 

angota pendiri Universitas Tapanuli (UNITA) di Padangsidimpuan.

Salah seorang angota pendiri Masjid Al-Abror di Padangsidimpuan selama 2 tahun (1962-1964). Mengajar pada madrasah NU Wek V Padangsidimpuan selama 1 tahun, kemudian mengajar pada Madrasah Tsanawiyah di Basilam Baru, Kecamatan Batang Angkola (1962- 1963).

Pada tahun 1962 mendirikan Fakultas Syari’ah Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSU), universitas Islam Tapanuli (UISTA), Sekolah Tinggi Islam Tapanuli (STISTA). Pada tahun yang sama menjadi dosen pada Fakultas Syari’ah Perguruan inggi tersebut.

Pada tahun 1962 menjabat Rektor Perguruan Timggi Nahdlatul Ulama (PERTINU), UNUSU, IAIN Padangsidimpuan.

Pada tahun 1963 mendirikan fakultas tarbiyah UNSU yang kemudian diubah statusnya menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol pada tahun 1968. Dosen Fakultas Tarbiyah UNUSU selama lima tahun (1983-1968).

Pada tahun 1965 mendirikan Fakultas Ushuluddin UNUSU kemudian pada tahun 1970 dinegerikan menjadi cabang IAIN Iman Bonjol. Menjadi dosen Fakultas Ushuluddin UNUSU, (1965-1971).

Syekh Ali Hasan Ahmad adalah pejuang kemerdekaan. Memang demikianlah perjalanan hidup para ulama di Indonesia. Mereka berada di baris depan dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Pasalnya, penjajahan bertentangan dengan ajaran islam. Bukti kejuangannya adalah sejumlah penghargaan dan


 

bintang yang dianugerahkan oleh negara kepadanya. Tanda jasa tersebut adalah:

1.       Pada Penghargaan Satya Lencana Perang Kemerdekaan 1 dari Menteri Pertanahan Ir. H. Juanda, nomor 245628 tanggal 17 Agustus 1953.

2.     Tanda jasa Pahlawan dari Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Ir. Sukarno, nomor 51675 tanggal 10 November 1958.

3.      Tanda kehormatan Satya Lencana Karya Satya Tingkat II dari Presiden RI Suharto, SK No. 076/KT/1976 tanggal 10 November 1976.

4.     Sk pengakuan, pengangkatan dan penganugerahan gelar kehormatan veteran Pejuang Kemerdekaan RI dari Panglima ABRI Nomor: Skep/1956/1981 tanggal 15 Agustus 1981.

5.     Piagam tanda terima kasih dari menteri dalam negeri/ketua lembaga pemilihan umum, Suparjo, nomor : 3789/B.2/X/87 tanggal 23 Oktober 1987.

6.     Piagam tanda terima kasih dari menteri dalam negeri/ketua lembaga pemilihan umum, H. Amir Achmud, nomor BI/II/PP/1982 tanggal 9 September 1982.

7.     Piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan 45 dan ketua umum DHN angkatan 45, H. Surono, nomor 9289131888 tanggal 10 November 1990.

8.     Piagam penghargaan dari gubernur kepala daerah tingkat 1 Sumatra Utara periode 1988- 1993 tanggal 15 Agustus 1992.

9.     Piagam penghargaan dari REKTOR IAIN Sumatera Utara, Drs. H. A. Nazri Adlan, sebagai tanda jasa perintis pendirian IAIN Sumatra utara tanggal 16 november 1993.

Posting Komentar

0 Komentar