Biodata Singkat Syekh Musthafa Husein (Muhammad Yatim)

            


        Syekh   Musthafa   Husein   (Muhammad Yatim)

Muhammad Yatim belajar pada Syekh Abdul Hamid sekitar 3 tahun (1897-1900 M). Sistem belajarnya bukan pendidikan formal, tetapi bersifat nonformal di mana beliau tinggal bersama dengan Syekh Abdul Hamid.

Kedekatannya dengan guru telah menghasilkan perilaku islami pada diri Muhammad Yatim. Pada dirinya semakin tumbuh suatu keyakinan dan kepercayaan yang kuat untuk lebih giat belajar ilmu pengetahuan Islam.

Melihat kemauan yang keras dan keinginannya untuk mendalami agama Islam, oleh gurunya (Syekh Abdul Hamid) menganjurkan untuk belajar ke Makkah. Hal ini sejalan dengan harapan dan cita-cita orang tua Muhammad yatim (Haji Husein).

Untuk itu, diambil kesempatan agar Muhammad Yatim melanjutkan pelajarannya ke Makkah bersama- sama dengan jamaah haji dari daerah Mandailing.

Menurut catatan harian Syekh Mustafa Husein, beliau berangkat dari Mandailing ke Makkah pada bulan Rajab 1319 Hijriyah (1900 M) pada usia 16 tahun bersama dengan Muhammad Nuh bin Syekh Syahbuddin dari Mompang Julukan Penyabungan.

Syekh Syahbuddin berangkat ke Mekah melalui Kedah Malaysia dan menetap di Makkah sekitar 20 tahun. Beliau mempunyai anak dari istri pertama bernama Harun juga telah menetap di Makkah.


 

Sedangkan Muhammad Nuh teman Muhammad Yatim ini adalah anak Syekh Syahbudin dari istri kedua bernama Maryam Harahap dari Sambungan Angkola Julu.

Selama di Makkah, Muhammad Yatim tinggal dengan keluarga Syekh Syahbudin, kemudian dengan keluarga Syekh Abdul Kadir al-Mandily, dan pada waktu itu Syekh Ja'far dan Syekh Muhammad Yakub anak Syekh Abdul Kadir masih dibawa usia Muhammad Yatim24.

Muhammad Yatim (Syekh Mustafa Husein) belajar agama Islam di Masjidil Haram dengan sistem halaqah (duduk bersila mengelilingi guru) sampai 5 tahun. Selama 5 tahun belajar, beliau merasa belum mendapat ilmu pengetahuan Islam dengan sempurna, maka ia berencana akan berangkat ke Mesir untuk mendalami ajaran Islam.

Akan tetapi, rencana ini dibatalkannya setelah mendapat bimbingan dan pikiran dari seorang yang berasal dari Palembang. Setelah mendapat masukan tersebut, beliau lebih konsentrasi dan percaya diri untuk belajar di Masjidil Haram kepada ulama-ulama terkemuka yang mengajar di Masjidil Haram. Gurunya tersebut adalah:

1.    Syekh Abdul Kadir Al-Mandily

2.         Syekh Saleh Bafadlil

3.        Syekh Ali Maliki

4.        Syekh Umar Bajuned

5.       Syekh Ahmad Khatib

6.         Syekh AbdurRahman

7.       Syekh Umar Sato

8.       Syekh Muhammad Amin Mardin.

Bidang     keilmuan     Islam     yang     diperdalaminya meliputi:

1.         Ummul Quran dan Ilmu Tafsir,

2.       Ulumul Hadits dan Mustholahul Hadits,

3.        Bahasa Arab beserta tata bahasanya (Nahwu dan Shorof),

4.       Fiqih dan Ushul Fiqih,

5.       Tauhid,

6.       Ilmu Falaq,

7.       Balaghah,

8.       Ilmu a'rud dan Barzanji,

9.       Serta ilmu Tasawuf( bukan ilmu tarekatnya).

Belajar ilmu keislaman yang berbagai macam tersebut diperoleh dari para ulama yang spesialisasinya di bidang itu.

Syekh Musthafa Husein bermukim dan belajar di Makkah hampir 12 tahun, itu tahun 1319 H-1332 H bersama dengan 1900-1912 M. Selama beliau Berada di Makkah, ia tidak pernah pulang ke Mandailing/ Indonesia. Beliau berhubungan dengan keluarganya pada saat musim haji setiap tahun jika kebetulan terdapat jamaah yang berasal dari anggota keluarga atau orang Mandailing.

Syekh Musthfa Husein sangat memperhatikan dan berkonsentrasi belajar agama sebagaimana layaknya seorang menuntut ilmu di rantau, kesempatan ini tidak disia-siakan dengan harapan dan cita-cita setelah kembali ke Mandailing akan mengamalkan dan mengajarkan kepada masyarakat. Beliau selalu terbayang bahwa keluarga dan masyarakat Islam di daerahnya sangat memerlukan ilmu-ilmu keislaman pada saat itu.

Konsentrasi untuk belajar di Makkah akhirnya terganggu setelah beliau mendapat berita bahwa ayahandanya (Haji Husein) telah wafat pada tahun 1330 H/1910 M. Kemungkinan beban pikirannya yang terganggu itu juga dialami oleh pihak keluarga di Mandailing, pada tahun 1332 H/1912 M datang berita dari ibunda beliau agar pulang ke Mandailing. Permintaan ibunya tersebut dipenuhinya untuk melakukan ziarah ke kampung halaman.

Setelah selesai melaksanakan ibadah haji tahun 1332 Hijriyah, menurut catatan hariannya, Syekh Musthafa Husein berangkat meninggalkan Makkah menuju Mandailing Indonesia tepatnya tanggal 1 Muharram dan sampai di Mandailing pada bulan Rabiul Awal 1332 H.

Tinggal kembali bersama keluarga di Mandailing, beliau tidak lagi dibolehkan pulang ke Makkah. Ini didukung oleh masyarakat luas karena diperlukan guru agama yang memberikan bimbingan dan pengajian. Permintaan keluarga dan masyarakat ini beliau penuhi dengan ikhlas guna untuk mengembangkan syariat Islam di Mandailing.

Enam bulan setelah beliau tinggal di Mandailing, maka atas permintaan keluarga supaya berumah tangga.


 

Setelah terwujud kesesuaian, pada bulan Syawal 1332 H Syekh Musthafa Husein kawin dengan Habibah, gadis dari Hutapungkut Kotanopan.

Syekh Musthafa Husein sebagai pendiri Pesantren Musthafawiyah memberikan kontribusi berupa tiga macam warisan, yaitu ilmu pengetahuan, karisma kepemimpinan, dan bangunan/fisik.

Telaah terhadap keberadaan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di Kabupaten Mandailing Natal dilihat dari bangunan keilmuan yang ditransfernya serta peran alumninya di tengah masyarakat. Hal ini dapat dipahami berdasarkan hubungan-hubungan logis seperti dijabarkan dalam proposisi-proposisi sebagai berikut:

1.         Bangunan keilmuan di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru merupakan suatu sistem teologis sekaligus ideologis yang dipandang sangat fungsional dalam membentuk sistem keilmuan dan kepribadian para santri.

2.       Pesantren Musthafawiyah Purba Baru telah berhasil memproduksi sejumlah besar lulusan yang memiliki sistem keilmuan, corak pemahaman keislaman, dan watak kepribadian yang kurang lebih sama antara satu sama lain alumni.

3.        Para alumnus Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dari pesantren, telah banyak melakukan aktivitas sosial keagamaan di tengah masyarakat Mandailing. Karena aktivitas tersebut, para alumnus pesantren Mustofawiyah Purba Baru telah


 

menempati posisi strategis sebagai agent of change di tengah masyarakat.

4.       Tingkat strata perkembangan (akseptabilitas) masyarakat Mandailing terhadap misi para Alumni Pesantren Mustafawiyah purba Baru sangat tergantung pada kebutuhan dasar (need assasment) mereka pada era tertentu. Bilamana aktifitas dan misi yang dibawa oleh alumni pada era tertentu. Pesantren Mustafawiyah Purba Baru dinilai dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka masyarakat Mandailing akan menunjukkan akseptabilitas yang tinggi terhadap alumni pesantren.

5.       Dalam situasi perkembangan sosial yang terus berubah dari zaman ke zaman, masyarakat Mandailing memberikan apresiasi yang berbeda terhadap misi dan usaha-usaha yang diperoleh oleh alumni pesantren Musthafawiyah Purba Baru.

6.       Dengan demikian perkembangan pesantren Mustofawiyah Purba Baru di Kabupaten Mandailing Natal banyak tergantung pada kesesuaian serta kemampuan para alumni untuk menjabarkan pengetahuan dan keterampilannya untuk menjawab persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat.

Di antara murid Syekh Musthafa Husein yang menjadi ulama besar dan tokoh sentral di Tapanuli adalah:

1.                                1. Syekh Ahmad Zubair Addariy,

2.       Syekh Ilyas (asal sabajior, panyabungan, pernah menjadi guru pesantren Subulussalam Sayurmaincat Kotanopan sekitar tahun 1929- 1930),

3.        Syekh Junaid Thala,

4.       Syekh Ali Hasan Ahmad Addariy,

5.       Syekh Abdul Halim bin Ahmad Khattib Al- Mandiliy (Tuan Naposo),

6.       Syekh Syamsuddin bin Abdurrahim al-Mandiliy (1912-1991),

7.       Syekh Ja'far Abdul Wahab (Pak Mosir, menantu Syekh Mustafa),

8.       Syekh Abdul Wahab, Muaramais (1914-1991),

9.       Syekh Muhammad Solih, Sigalapang Julu (1912- 2002),

10.     Syekh Zainuddin, Panyabungan Jae (1917-2005),

11.      Syekh Sulaiman bin Syihabuddin,

12.     Haji Muktar Harahap, Padang Bolak (1900-1948),

13.      Syekh Ahmad Daud Siregar, Tuan Nabundong (lahir, 1891).

Berdasarkan catatan sejarah lebih dari 500 santri Tapanuli yang pernah belajar di Haromain, mulai dari angkatan pertama sampai sekarang.

Posting Komentar

0 Komentar