Syekh Husin Nasution
Syekh Husin Nasution lahir di Huraba Kecamatan Siabu. Pada tahun 1890 naik haji dan belajar di Masjidil Haram selama 7 tahun. Dalam perjalanan pulang ke Mandailing Syekh Husein Nasution ditawari
oleh teman seperguruannya ketika kembali dari Makkah, untuk berdiam
beberapa tahun di Negeri Perak. Mereka aktif
membina pondok perguruan Islam di Perak. Mereka berhasil memajukan
pondok itu, terbukti
dengan banyaknya orang yang belajar
di pondok tersebut.32
Syekh Husin Nasution menikah dengan gadis asli Melayu di Perak, yang bernama
Zainab. Mereka dianugerahi dua orang putra bernama Abdul
Malik dan Abdul Zein. Kaum kerabat
Syekh Husein Nasution
datang untuk mengajak kembali ke kampung halaman Huraba. Istrinya tidak bersedia ikut.
Setelah berhukum selama 5 tahun di Perak, Syekh Husein Nasution
kembali ke Huraba,
kemudian menikah dengan gadis sekampung
Masdaur, yang melahirkan seorang putra dan tiga orang
putri, masing- masing, Asmah, Hajar, Halimah,
dan Abdul Jawad Nasution.
Setibanya di Huraba pada tahun 1902, Syekh
Husein Nasution mendirikan pondok Huraba. Muridnya datang
dari berbagai penjuru
antara lain, Siabu, Barumum, dan Padang Sidempuan.
Setelah mengasuh pondok Huraba selama 24 tahun, Syekh Husin Nasution pindah ke Padangsidimpuan dan mengajar di Masjid Raya Lamo.
Para jamaahnya
menyediakan tempat tinggal
Syekh Husein Nasution
di kantin, Padang Sidempuan. Beberapa diantaranya muridnya antara
lain, Haji Abdul Wahab, Ratal, Haji
Abdul Gani, Haji Shomad, dan Syekh Abdul Manan Siregar.
Dakwah Syekh Husin Nasution di Padangsidempuan adalah memberantas kemungkaran adat istiadat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Ulama
ini wafat pada tahun 1932 dalam usia 66 tahun.
Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di kampung halamannya Huraba, Kecamatan Siabu.
0 Komentar