Islam di tanah Sumatra Utara Mandailing Natal

Sejarah Kabupaten Mandailing natal
Sejarah asal usul nama Mandailing hingga saat ini masih diperdebatkan dengan berbagai
teori yang saling bersaing. Nama Mandailing berasal dari ungkapan Mandelayang (bahasa Minang
Kabau) yang berarti “ibu yang hilang” dan kata Mandejiwa yang juga berarti muda yang pergi,
menurut Meuraxa (1974) yang dikutip oleh Lubis. Menurut kutipan Lubis dari Mulyana (1964), suku
Munda mendiami India Utara. Masyarakat Munda bermigrasi ke selatan sebagai respon atas
kehadiran dan pengaruh kelompok Arya pada tahun 1500 SM. Setelah masyarakat Munda
menguasai daerah aliran sungai Gangga, mereka bermigrasi dari India ke Assam dan Asia
Tenggara. Sekitar periode ini, diyakini bahwa sekelompok kecil masyarakat Mundan melakukan
perjalanan ke tempat yang kemudian dikenal sebagai Mandailing setelah memasuki Sumatera
melalui pelabuhan Barus di pantai barat pulau tersebut (Cut, 2004).
Mauraxa menambahkan, Mandailing berasal dari kata Mandaly yang mengacu pada kota
besar di Burma. Tarigan dan Tambunan (1974), dikutip Lubis, menyatakan bahwa Mandalay, yang
hampir identik dengan Mandailing, adalah nama kota kebudayaan atau pusat peradaban dan
administrasi di Burma Utara. Perpindahan orang-orang dari Asia dapat dikaitkan dengan
pemerintahan masyarakat Manda yang bermigrasi dari Mandalay ke Sumatera. sekitar tahun 1000
M, sebelah selatan wilayah Indonesia (Cut, 2004).
Mangaraja Lelo Lubis yang dikutip Lubis menyatakan bahwa kata Mandala Holing yang
mengacu pada nama raja yang wilayah kekuasaannya terbentang dari Gunung Tua Padang Lawas
hingga Piu Delhi (sekarang Pidoli) di Mandailing adalah asal muasal nama Mandailing.
Penggerebekan pasukan Majapahitan memaksa pusat kerajaan di Portibi Gunung Tua dipindahkan
ke Pidoli. Sisa-sisanya kini masih terlihat dalam bentuk candi bersejarah yang terletak di Portibi.
Pada konflik Paderi, tentara Islam yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol meluluhlantahkan
kecamatan Panyabungan dan Simangambat di Siabu. Nama Vihara yang mengacu pada tempat
ibadah umat Hindu berasal dari istilah "biora" yang digunakan untuk menyebut candi-candi tersebut.
Sejak nama Mandailing muncul dalam sumpah palapa Gajah Mada dalam puisi
Kakawinnegarakertagama ke-13 karya Mpu Prapanca, maka wilayah tersebut dianggap sebagai
bagian dari pemekaran Majapahit sekitar tahun 1287 Caka (1365 M) ke beberapa wilayah di luar
Pulau Jawa; Kakawin dalam tulisan tangan ditemukan di Candi Cakranegara, Lombok, dan
kemudian diterbitkan pertama kali pada tahun 1902 oleh sarjana Belanda J. Randes dalam bahasa
dan huruf aslinya dalam buku berjudul Negara Kertagama. Jauh sebelum masa Prapanca.
Masyarakat yang sangat canggih telah berkembang di Mandailing sebagai akibat dari catatan
sejarah invasi Rajendra Cola ke kerajaan Panai pada tahun 1023 M dari India. Masyarakat Toba
Kuno juga mengagung-agungkan Mandailing, yang tercatat dalam tonggo-tonggosiboru deakparujar,
sastra klasik Toba Kuno yang terdiri dari sepuluh bab yang menjadi landasan falsafah budaya
masyarakat dan keselarasan dalihan na tolu. Menurutnya, alam Mandailing adalah tempat turunnya
para dewa (Debata nan tiga) di Tiga Segi, di empat kerajaan di benua tengah (bumi), dan juga
merupakan rumah bagi jalan menaik. Setelah raja Batak (generasi keenam dari Siborudekparujar
dan Siraja Odap-odap) lahir pada tahun 1305 M, dibuatlah tonggo-tonggo ini. Raja Batak yang
menduduki jabatan penting di Mandailing diyakini pindah ke Toba dan melahirkan keturunan di sana. Selain itu, istilah “mandake” digunakan pada beberapa komunitas Aek Marian Mandailing kuno.
Secara khusus, Mandala Sena, duta janggut Marpayung Aji, menetap di nenek moyang maras
Rangkuti dan Parinduri (Mukrizal, 2014).
Masuknya dan Berkembangan Agama Islam di Mandailing Natal
Menurut analisa penulis, umat Islam pertama yang masuk dan menyebar ke seluruh
Kabupaten Mandailing Natal melakukannya dari Pasama, Minang Kabau, Sumatera Barat, dan
melalui pembawa Islam pertama dari Natal.
Konflik Paderi di Minangkabau (Sumatera Barat) tidak bisa dilepaskan dari masuknya
agama Islam di Mandailing. Gerakan kulit putih yang berlangsung selama dua tahun (1803–1805)
berkecamuk dan mengubah dunia Minangkabau pada tahun 1803–1807.
Kemudian, di bawah kepemimpinan Tuanku Lintau, akhirnya berdirilah Negara Darul
Minangkabau pada tahun 1804–1807. menghiasi dan mempersatukan para pemimpin Putjuk dalam
Rapat Tuanku Nan Selapan yang disebut juga dengan Tuanku Banyakiangan.
Namun ulama di wilayah Mandailing muncul pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-20
berdasarkan catatan-catatan yang ada saat ini. Hal ini membuka jalur perkembangan Islam di
Mandailing dan perkembangannya menjadi pusat penyiaran pada awal abad ke-20. Pemekaran
wilayah di Mandailing didasarkan pada struktur pemerintahan lokal yang terdiri dari banyak huta
(desa). Anggota masyarakat terikat oleh aturan adat yang disepakati bersama. Biasanya, seminggu
sekali, ada semacam pasar (akhir pekan) dalam sistem pemerintahan konvensional seperti ini.
Hubungan sosial dan ekonomi masyarakat setempat terkena dampak signifikan pada minggu ini.
Ulama biasanya melakukan upacara keagamaan di rumah dan masjid. Selain itu, pendidikan
madrasah khusus anak digunakan untuk melaksanakan tugas ini. Ulama mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap pertumbuhan Islam di Mandailing. Mayoritas akademisi tersebut berasal dari
Mandailing, Julu, dan antara lain: Syekh Sulaiman Al - Kholidy ( 1842-1917 ) di Hutapungkut Tonga,
Syekh abdul Hamid ( 1865-1928 ) di Hutapungkut Julu, Syekh Djuned Thala ( 1886-1955 ) di Huta
Namale Maga, Syekh Musthafa Husein ( 18861955 ) di Purbabaru, Syekh Fachruddin Arif ( 1901-
1957 ) di Botung Tamiang
Pembahasan yaitu Desa Pagur pada masa itu, masyarakat membiarkan Islam
melemahkan hubungan mereka dengan nenek moyang, sedangkan di Angkola, Sipirok, dan Padang
Lawas, mereka berusaha memeliharanya. Pada permulaan pengembangan Agama Islam tersebut
Raja yang berkuasa di Huta Siantar adalah Sang Yang Dipertuan di daerah Gunung Baringin Kuriah
Mangaraja Gunung Dolok Malea dan di Pagur Raja Jambi. Setelah beberapa waktu beliau tinggal di
Huta Siantar, Malim Salawet menikah dengan puteri Sutan Muda atau saudara perempuan dari Raja
Jambi di Pagur, maka Malim Salawet pun pindah ke Pagur. Dari sini beliau meneruskan
pengembangan Agama Islam untuk selanjutnya. Peran Malim Salawet dalam pengembangan islam
di Mandailing Natal Desa Pagur yaitu: Penyampaian Syari'at Perintah Shalat ke Masyarakat Desa
Pagur, Penyampaian Larangan Makan Daging babi secara bertahapdan rintangan dan ancaman
yang di hadapi Malim Salawet dalam mengembangkan agama Islam.
PENUTUP
Menurut analisa penulis, umat Islam pertama yang masuk dan berkembang di Kabupaten
Mandailing Natal adalah dari Pasaman, Minang Kabau, Sumatera Barat, dan mereka datang dari
Natal yang merupakan pemukiman Islam asli di Mandailing Natal. Konflik Paderi di Minangkabau
(Sumatera Barat) tidak bisa dilepaskan dari masuknya agama Islam di Mandailing. Gerakan kulit
putih yang berlangsung selama dua tahun (1803–1805) berkecamuk dan mengubah duniah
Minangkabau pada tahun 1803–1807.
Karena banyaknya ulama terkemuka yang mendakwahkan Islam di wilayah ini, maka
julukan Veranda Makah dikaitkan dengan Kabupaten Mandailing Natal, mencerminkan kedalaman
perkembangan Islam di wilayah ini. Meskipun ulama Mandailing tertentu berkiprah di Semenanjung
Malaysia dan Tanah Suci Mekkah al Mukarramah, rasa hormat tetap ada pada semua ulama yang berasal atau aktif di Madinah. Tokoh Ulama dan Pengembangan Islam di Mandailing: Syekh Haji 
Abdul Wahab Lubis, Syekh Abdul Malik bergelar Baleo Nata, Tuanku Kali Sutan Nasution, Syekh 
Haji Abdul Muthalib Manyabar, Syekh Muhammad Said Nasution (nama kecil Tajuddin), Syekh Abdul 
Fatah, Syekh Abdul Majid Lubis, Syekh Haji Abdul Qadir bin Abdul Muthalib bin Hassan, Syekh 
Musthafa Husein., Syekh Haji Abdul Hamid Lubis Hutapungkut.
Masuknya Islam yang di bawa oleh Syekh Malim Salawet baik itu di mandailing mau pun di 
desa Pagur belum tau bagaimana pastinya tetapi terdapat beberapa persi yang diantaranya ialah 
menurut buku yang telah di tulis oleh Drs.Haji MuchlisLubis Pengembangan Malim Salawet sebagai 
pengembang Agama Islam di Mandailing datang bersama-sama dengan rombongan Tuanku Rao 
seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Malim Salawet dan dua orang temannya ditugaskan 
mengislamkan Mandailing dan Angkola, Malim Salawet pertama kali tinggal di Huta Siantar dan dari 
sinilah mulai beliau mengem bangkan dan menyebarluaskan Agama Islam itu.
Pada permulaan pengembangan Agama Islam tersebut Raja yang berkuasa di Huta Siantar 
adalah Sang Yang Dipertuan di daerah Gunung Baringin Kuriah Mangaraja Gunung Dolok Malea 
dan di Pagur Raja Jambi. Setelah beberapa waktu beliau tinggal di Huta Siantar, Malim Salawet 
menikah dengan puteri Sutan Muda atau saudara perempuan dari Raja Jambi di Pagur, maka Malim 
Salawet pun pindah ke Pagur. Dari sini beliau meneruskan pengembangan Agama Islam untuk 
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, amin husayn. (2006). seratus tokoh dalam sejarah islam. Remaja Rosdakarya.
Bungin, B. (2007). Penelitian kualitatif. Prenada Media Group.
Busman, E. (2009). Sejarah peradaban islam. Pustaka Asatruss.
Cut, N. (2004). Permukiman Suku Batak Mandailing. Gadjah Mada University Press.
Fadhil, A.-D. (2006). Menerobos krisis pendidikan dunia islam. Golden Terayon.
Gazalba, S. (1981). Pengantar Ilmu Sejarah.
Ginddens, A. (2010). Teori strukturasi, dasar-dasar pembentukan struktur sosial masyarakat. 
pustaka pelajar.
GLASSE. (2000). ENSIKLOPEDIA ISLAM.
Gottschalk, L. (1975). Mengerti sejarah /Louis Gottschalk; Penerjemah: Nugroho Notosusanto.
Haidir. (2019). penelitian pendidikan. Kencana.
Helius, S. dan I. (1996). pengantar ilmu sejarah. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Hoesain, D. (1983). tinjauan kritis tentang sejarah Banten. Jakarta Djambatan.
ilhamudin, j.suyuthi pulungan, N. H. (2020). SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI OGAN HILIR, 
1934-2004. JUSPI, 3, 104.
Kartodirdjo, S. (1982). Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif.
Lubis Mukhlis. (2000). Malim Salawet dan Pengembangan Agama Islam Di Mandailing.
Madjid, D. M., & Wahyudi, J. (2014). Ilmu Sejarah : Sebuah Pengantar. Prenada Media Group.
Marzuki. (2007). pembelajaran pendidikan agama islam.
Muhadjir, N. (1998). metode penelitian kualitatif. Rake Sarasin.
Mukrizal. (2014). Perkembangan Agama Islam di Kabupaten Mandailing Natal (1821-1915). 
UNIMED.
Nizar, S. (2007). Sejarah pendidikan Islam. CV. PUSTAKA SETIA.
Notosusanto. (1984). Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Suatu Pengalaman). Inti Dayu.
Onggang, P. M. (1964). TuanKu Rao. Tandjung Pengharapan.
Pulungan, A. (2008). Perkembangan Islam Di Mandailing. Ciptapustaka Media Printis.
Raco, josef R. (2010). Metode penelitian kualitatif. PT. Grasindo.
Sawendra. (2018). Metode Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu Sosial,Pendidikan,Kebudayaan,Dan 
Keagamaan. Nila Cakra.
Sugiono. (2007). metode penelitiam bisnis. Alfabeta.

Posting Komentar

0 Komentar