Biodata Singkat Syekh Bosar


        

 Syekh Bosar

Syekh Bosar memiliki nama asli Abdul Halim Hasibuan dan kemudian diberi gelar atau julukan oleh masyarakat dengan sebutan Syekh Bosar. Ia dilahirkan di Kampung Sihijuk Kecamatan Sipirok Tapanuli Selatan tahun 1857 M. Ia adalah anak dari seorang bernama Maulana Kadi Hasibuan gelar H. M. Nurhakim yaitu salah seorang Tuan Kadi di Konteler zaman penjajahan Belanda.39

Syekh Bosar memulai aktifitas menuntut ilmu pada Sekolah Desa. Umur 12 tahun ia berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan aktifitas belajar dan memuaskan dahaga terhadap ilmu keagamaan.Ia kembali ke tanah air sekitar tahun 1900.

Dalam riwayatnya di sekolah, ia adalah termasuk anak yang rajin, cerdas dan taat kepada guru serta benar-benar disegani oleh para teman-temannya. Sejak kecilnya di rumah ia selalu dididik orang tuanya mengenai agama. Dan pendidikan agama ini diperdalamnya utamanya setelah ia berada di Mekkah sekitar antara tahun 1870 hingga 1900.

Guru-gurunya yang terkenal antara lain ialah Sykeh Umar Hamdan, Syekh Asy’ary Bawian, Syekh Kendi, Syekh M. Daud Fathoni, dan Syekh Zainal Abidin. Selama ia berada di Mekkah ia belajar ilmu agama seperti Ilmu Fikih, Ilmu Hadits dan utamanya bagian Tasawuf.

 

 


39Anhar dan Zainal Efendi Hasibuan, Ulama Kota Padangsidimpuan,

(Malang: AE Pubishing, 2022), h. 44.


 

Dan selama ia belajar di Mekkah adalah atas biaya tanggungan orang tuanya sendiri dan tidak pernah mendapat biaya dari pemerintah atau yang lainnya. Oleh karena keberangkatannya ke luar negeri itu adalah atas kemauannya sendiri, beserta dengan dorongan dari pihak orang tuanya.

Selama di Kota Mekkah, di samping belajar bidang- bidang pengetahuan agama, ia mengutamakan lebih banyak mengikuti ajaran dan praktek ilmu Tasawuf. Sehingga ia mempunyai keistimewaan dalam bidang Tasawuf utamanya dalam Thariqat Naqsabandiyah. Dan sewaktu berada di Mekkah itu pulalah beliau menunaikan ibadah Haji.40

Setelah ia kembali ke tanah air sekitar tahun 1900 ia mulai mengadakan kegiatan mengajar di Mesjid Raya Lama Kota Padangsidimpuan hingga hari wafatnya tahun 1920. Keadaan masyarakat yang dihadapinya pada waktu itu pada umumnya adalah masih dalam keadaan buta huruf mengenai ajaran Islam. Pengetahuan mereka mengenai agama masih sangat minim. Namun, demikian pada umumnva mereka taat beribadah rajin ke mesjid dan mengikuti pengajian-pengajian dan benar-benar mereka menginginkan adanya seorang guru untuk mengajari mereka.

Dalam masyarakat seperti ini muncullah Syekh Bosar di tengah-tengah masyarakat Padangsidimpuan sekembalinya dari Mekkah. Kedatangan beliau di tengah Padangsidimpuan disambut oleh khalayak ramai dengan penuh penghargaan dan penghormatan melalui upacara-upacara adat. Dan seterusnva beliau benar- benar dihormati, disegani, dan dipatuhi oleh


40Anhar dan Zainal Efendi Hasibuan, Ulama...h. 45.


 

masyarakat. Syekh Bosar mengajar di Mesjid Raya Lama Padangsidimpuan selama 20 tahun (tahun 1900-1920). Dan    di                  samping    itu   beliau              membuka pengajiannya di Hutaimbaru  Angkola Julu, sambil mengadakan praktik khalwat di sana. Ajaran-ajaran yang diberikannya benar-benar mendapat sambutan dari masyarakat ditaati dan dihormati dengan sebaik-

baiknya.

Beliau mendirikan surau untuk tempat belajar salat dan itulah Masjid Raya Lama yang sekarang. Di sekitar surau tersebut beliau dirikan beberapa pondok-pondok untuk tempat murid-muridnya. Beliau tidak pernah mendirikan tempat pengajian yang berbentuk madrasah seperti yang ada sekarang ini. Namun demikian, murid- murid beliau cukup banyak dan berganti-ganti menurut priodenya masing-masing.

Dapat diperkirakan bahwa murid-murid pengikutnyalah yang paling banyak, oleh karena pada waktu itu belum ada guru-guru tandingannya. Setelah selesai belajar para murid-muridnya tersebar ke berbagai tempat, dan kemudian terkenal di sana, seperti Syekh Kadir dari Aek Pining-Batang Toru, Syekh Harun adiknya, Syekh Bosar sendiri, Haji Hasan di Mompang Julu Kecamatan Panyabungan, Dja Mulia dari Simarpinggan, Syekh Abdul Rahman dari Sialogo, Haji Daud di Mompang Julu. Haji Abdul Halim Pardede di Prapat-Toba Samosir.

Seperti diketahui, untuk tempat pengajarannya beliau mendirikan surau dan atas biaya dan gotong royong masyarakat surau itu diperbesar menjadi Masjid Raya Lama Padangsidimpuan. Berpijak kepada informasi yang diberikan oleh salah seorang pengurus Masjid Raya Lama bahwa beliau tidak pernah


 

mendirikan masjid di lain tempat. Demikian pula beliau tidak meninggalkan karya tulis dalam bentuk buku.

Hal ini diduga karena beliau lebih banyak mengarah aktivitas keulamaannya kepada praktek- praktek ibadah, zikir dan tarekat.

Syekh Bosar adalah seorang yang taat beribadah, beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid, dan beliau keluar hanya sekedar seperlunya saja. Selalu menjaga wudhu'nya jangan sampai batal dan beliau sangat banyak membaca Al Quran.

Sebagai seorang guru besar, untuk memperoleh nafkah hidupnya, beliau bertani, dan para murid- muridnya cukup rajin membantunya menggarap sawah dan di samping itu beliau banyak juga menerima sedekah-sedekah.

Syekh Bosar sebagai seorang Ulama sekalipun lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengajar dan berkhalwat, tetapi beliau juga pernah diangkat sebagai Hakim Qadli di zaman Belanda. Sewaktu Syarikat Islam (S.I.) dipimpin oleh Haji Agus Salim di Jakarta, beliau juga diangkat sebagai Ketua S.I. di Tapanuli Selatan.

Pada tahun 1920 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di sebelah kiri Masjid Raya Lama Padangsidimpuan. Menurut ceritanya, beliau meninggal akibat penyakit perut dan ambeyen yang beliau derita beberapa waktu Iamanya.41

Dulunya makam beliau itu selalu diziarahi orang utamanya oleh murid-murid beliau sendiri, dan sekarang orang yang menziarahinya sudah agak berkurang. Pada hari beliau meninggal masyarakat


41Anhar dan Zainal Efendi Hasibuan, Ulama...h. 45.


 

berduyun-duyun menghadirinya tanda turut berduka cita, bahkan sampai upacara pemakamannya dihadiri oleh Kuria dan Raja-raja setempat.

Posting Komentar

0 Komentar