Biodata Singkat Syekh Ibrahim Sitompul Tapanuli Utara


 

Syekh Ibrahim Sitompul Tapanuli Utara 

Tidak banyak diketahui khalayak ramai, bahwa seorang bermarga Sitompul ternyata Tuan Syèkh. Banyak diketahui orang, bahwasanya Batak identik dengan Kristen. Hal ini dipengaruhi mayoritas Batak, khususnya dari Tapanuli Utara beragama Kristen.

Awalnya, Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul memang beragama Kristen, bernama Sionggang Oppu. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan hidup, banyak orang mengubah agamanya setelah beranjak dewasa merupakan hal yang biasa, karena seseorang memilih agama tidak dibawa lahir.

Meskipun hanya berijazah sekolah Zendling, Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul memiliki kemampuan berbahasa Belanda yang baik. Bahkan, menurut orang Belanda, kemampuannya dalam berbahasa Belanda melebihi rata-rata orang Belanda.35

Karena itu, begitu keluar dari Zendling, ia diangkat Asisten Residen Tapanuli Utara menjadi klerk (pekerja kantoran). Padahal, pada waktu itu belum ada orang pribumi yang diangkat sebagai klerk di Tapanuli.

Pengangkatan (Sionggang Oppu) Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul disukai oleh pegawai Belanda lainnya. Hal itu membuat Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul betah bekerja. Ia kemudian bekerja di Residen Sumatera Timur, pengeboran minyak, Pangkalan Berandan, dengan segala macam fasilitas diberikan PHB. Pada 1893 Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul naik haji sampai 1903 dan kembali ke kampung halamannya di Janjiangkola. Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, dan telah haji, ia mulai tertarik pada dunia politik dan ditunjuk sebagai Residen Serikat Islam (SI) Tapanuli.

Perjuangan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ, bersama dengan pejuang lainnya, dia terus berjuang menentang penjajah Belanda. Pada 1916, ia memimpin anak buahnya menolak pembayaran pajak dan kerja rodi.Setahun kemudian, ia bekerjasama dengan Ketua Hatopan Kristen Batak (HKB, Perkumpulan Kristen Batak), Mangihut Hezekiel Manullang meneruskan perjuangan Sisingamangaraja XII, bukanlah merupakan penyangkalan terhadap kekeristenan, akan tetapi menolak diskriminasi terhadap kerja rodi dan juga menolak penyewaan tanah melalui erfpacht .

Pemuda berbadan tegap, tampan, dan cerdas. Itulah dikatakan orang ketika melihat Sutan Eret, ayah Sionggang Oppu. Dia lahir dan besar di Tarutung (Silindung), hidup di lingkungan suku Batak, ramai dengan dinamika perdagangan yang didatangi dari negeri lain untuk membeli kemenyan dan kopi. Bahkan banyak negeri yang mendirikan perwakilannya di Silindung, seperti Cina dan India. Sistem pasar barter membangun kesepakatan dengan masyarakat lokal dan pendatang. Pendatang membawa bahan pakaian, ikan asin kering, garam dan lainnya. Masyarakat lokal membawa kemenyan, kopi, sayuran, padi, dan lainnya.

Suku Batak mempunyai budaya mangalua (nikah lari, bayar adat kemudian). Setelah Sutan Eret dewasa, dia melarikan dan menikahi Lee Soen Yoe, seorang putri Cina anak kandung Kepala Perwakilan Perdagangan Cina di Silindung. Mereka melarikan diri ke Silakkitang, Pahae Julu, tempat kakak Sutan Eret, yang sudah lama membuka kampung di Silakkitang.

Tindakan Sutan Eret tidak diterima pamannya, seorang pedagang kemenyan, sebagai penerus orang tua Sutan Eret di Silindung, Tapanuli Utara (Taput). Karena malu dan akibat desakan Kepala Perwakilan Perdagangan Cina, kemudian pamannya mengejar Sutan Eret ke Silakkitang.

Setelah beberapa bulan, di Lobu Handis lahirlah Sionggang Oppu (nama kecil Tuan Syekh Ibrahim Sitompul), sebuah tempat perjanjian Sutan Eret (Ayah Sionggang Oppu) dengan Ibundanya Lee Soen You (Ibu Sionggang Oppu) Putri Cina.

Sionggang Oppu lahir ditandai dengan datangnya angin kencang di Lobu Handis, pada tanggal 22 Februari 1831 (10 Ramadan 1246 H). Dia lahir tepat setahun setelah peristiwa penobatan Sisingamangaraja Raja XI naik tahta pada tahun 1830.

Anak yang lahir menjadi buah hati mereka, Sionggang Oppu tumbuh dengan perhatian dan pengasuhan yang dengan budaya Batak dan Cina, sehingga dia tumbuh menjadi anak balita yang mempunyai kekuatan daya tarik bagi yang melihatnya.

Sutan Eret, ayah Sionggang Oppu yang membuka Lobu Handis, tempat bersembunyi dari kejaran pamannya. Karena desakan orang tua Lee Soen Yoe, Ketua Perwakilan Pedagang Cina di Silindung.

Sutan Eret seorang yang mempunyai badan yang tegap, tampan, dan kuat, sehingga putri Cina mengikuti dan bersedia menjadi istrinya. Kekuatan Sutan Eret digunakannya membuka kampung dan mereka putuskan tidak kembali ke Silakkitang.

Setelah mereka membuka kampung, mereka bercocok tanam padi sebagai bahan pokok makanan dan menanam palawija sangat subur. Kesuburan tanah tersebut diberitakannya kepada semua kawan dan sanak saudara agar mau tinggal bersama mereka di Lobu Handis, kampung yang baru dibuka.

Mendengar berita kesuburan tanah Lobu Handis, tertariklah kawan-kawannya dan sanak saudaranya untuk bergabung, antara lain marga Panggabean dari kelompok Boru-nya, Sihombing, Hutapea, dan lainnya.

Setelah masyarakat semakin banyak, Lobu Handis semakin ramai, kemudian bergabung dengan 8 (delapan) Lobu lain menjadi sebuah Nagori, dan Sutan Eret terpilih sebagai Sutan Janjiangkola. Karena Sutan Eret mempunyai sifat mengayomi dan memperhatikan, di samping itu, istrinya adalah keturunan Cina yang cantik dan ramah.

Setelah kehidupan masyarakat Nagori Janjiangkola semakin sejahtera, maka bergaullah Sutan Eret keluar kampung dan membangun jaringan ke Silingdung dan luat (wilayah) Pahae. Hubungan kebersamaan yang dibangun Sutan Eret membuat dia terkenal di Silindung.

Sutan Eret sebagai Kepala Nagori Janjiangkola adalah sosok yang sukses membangun desa dan termasuk kepala Nagori yang dekat dengan masyarakat, pembangunan akses jalan dan jembatan yang menghubungkan antara dusun ke dusun terus diperbaiki, bahkan Balai pertemuan dibangun untuk dipakai Kepala Nagori dan warga masyarakat Nagori.

Sebagai Kepala Nagori Janjiangkola, Sutan Eret membangun dengan metode marsiadapari seperti padat karya dan koperasi, sekaligus membangun ekonomi masyarakat sehingga dapat terus membangun dan merawat akses jalan dan Rakit penyeberangan Sungai Aek Batangtoru.

Rancangan pembangunan Nagori melalui sebuah forum musyawarah adat disesuaikan dengan aspirasi masyarakat Nagori, kebutuhan dan peraturan adat yang berlaku. Menjadi seorang Kepala Nagori Janjiangkola terus disyukuri Sutan dalam setiap Martonggo (doa), karena masyarakat telah mau membangun Nagori Janjiangkola menjadi ramai.

Menjadi Kepala Nagori, Sutan Eret tidak pernah memandang rendah masyarakat, karena terus mengembangkan dan melaksanakan ritual agama bersama-sama, sehingga Sutan Eret sosok yang dikenal masyarakat dengan pribadi yang lugu dan jujur.

Karena kepemimpinan yang jujur dan mengutamakan warga, sehingga Sutan Eret terus kembali dipilih warga dalam setiap pemilihan Kepala Nagori, dan dirinya selalu tampil bersama istrinya Boru Pakpahan setelah istri pertama Lee Soen Yoe meninggal.

 

Pemerintah Belanda cepat sekali mendengar berita kemajuan Nagori Janjiangkola, maka Onder Afdeling Silindung (Wilayah Silindung) mengirim controuler menemui Sutan Eret dan meminta Kepala Nagori dan masyarakat Janjiangkola harus tunduk kepada kebijakan Pemerintah Hindia Belanda. Demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat serta kesepakan adat Nagori, Sutan Eret melaksanakan semua program Pemerintah


 

Belanda untuk memungut pajak setelah panen padi dan kopi.

Sionggang Oppu karena orang tuanya Kepala Nagori Janjiangkola mendapat kesempatan yang lebih dari teman sebayanya. Di samping itu, Sionggang Oppu cepat dan cerdas menguasai bahasa Belanda.

Masuknya agama Kristen ke Tapanuli Utara pada tahun 1824, hingga perkembangannya yang baru terlihat pada tahun 1861 setelah zending Rheinische Missions Gesellshaft (RMG) mempekerjakan zendelingnya di Tapanuli Utara, dibahas pula mengenai dampak dari perkembangan agama Kristen bagi kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli Utara dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-budaya.

Zendeling hidup bersama suku Batak dan memberikan pengaruh baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-budaya. Zendeling yang paling dikenang di Tapanuli Utara adalah Ingwer Ludwig Nommensen. Ia disebut juga Ompu. Perkembangan ini memang mengubah cara hidup masyarakat Batak di Tapanuli Utara, tetapi masih belum mengubah seluruh konsep pemikiran suku Batak tentang Tuhan secara utuh. Pada saat-saat tertentu, mereka masih mencampurkan beberapa pemikiran agama Batak dengan kepercayaan iman Kristen.

Nagari Janjiangkola, letaknya kurang lebih 37,6 Kilometer dari Tarutung. Tidak seperti kampung- kampung lainnya, Nagari Janjiangkola belum memiliki penerangan listrik. Sekolah pun hanya ada di Tarutung.

Sionggang Oppu agar bisa sekolah, dia setiap minggu harus berjalan kaki ke Tarutung. Di Tarutung, ayahnya menitipkan Sionggang Oppu di rumah


 

pamannya. Setiap minggu mengambil bekal ke Janjiangkola.

Dari kampung ini hanya dia yang bersekolah di Sekolah Zendling di Tarutung. Cerita perjuangan Sionggang Oppu menempuh jalan sulit pergi dan pulang dari sekolah mengusik rasa penasaran. Bayang- bayang perjuangan anak-anak kampung itu menjadi penyemangat untuk meneruskan perjalanan.

Sionggang Oppu sudah berusia 30 tahun saat menyelesaikan pendidikan Zendling. Sebagai anak Kepala Nagori dan memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata serta cukup mahir berbahasa Belanda, maka dia ditawarkan pilihan oleh Pemerintah Belanda. Pilihannya, bekerja atau melanjutkan sekolah ke Belanda. Jika bekerja, Sionggang Oppu akan diangkat menjadi Kerani Afdeling Batak Landen di Tarutung. Jika pilihannya sekolah, maka dia akan disekolahkan ke Sekolah Dyaksa di Den Haag, Belanda

Sionggang Oppu memilih bekerja sebagai Afdeling Batak Landen. Tahun 1882 Sionggang Oppu menjadi Kerani Ofzegter pada tuan Y. Walter di Tarutung, Afdeling Batak Landen.

Sebagai kerani Sionggang Oppu diberi jabatan Dhyaksa. Istilah Kedhyaksaan sebenarnya sudah ada sejak lama di Nusantara. Pada zaman kerajaan Hindu- Jawa di Jawa Timur, yaitu pada masa Kerajaan Majapahit, istilah dhyaksa, adhyaksa, dan dharmadhyaksa sudah mengacu pada posisi dan jabatan tertentu di kerajaan. Istilah-istilah ini berasal dari bahasa kuno, yakni dari kata-kata yang sama dalam Bahasa Sansekerta.


 

Karier Sionggang Oppu sangat bagus, sehingga Sionggang Oppu diberikan jabatan rangkap Distrikchoolfd Pahae untuk memperbesar capaian hasil kerja Afdeling Batak Landen. Sebagai kerani, Sionggang Oppu selama melaksanakan tugas dhyaksa tetap dengan keluguan dan kesederhanaan. Kuda yang selalu ditunggang untuk melaksanakan tugas di seluruh keresidenan Silindung menjadi perhatian khusus Asisten Residen Silindung.

Bahkan selama belasan tahun menjabat dhyaksa dirinya tidak memikirkan kekayaan, bahkan masih tinggal di rumah bapaknya Sutan Janjiangkola, Sutan Eret. Dia selalu bersyukur dengan jabatan Dhyaksa yang dipercayakan oleh Pemerintah Belanda.

Baginya ikhtiar dan kepasrahan adalah segalanya. Keputusan ada di tangan Mula Jadi Nabolon. Jika nanti tak lagi menjabat Dhyaksa, Sionggang Oppu ingin menjadi Pendeta. Yang terpenting saat itu, bagaimana menjalankan tugas dari Pemerintah Belanda dengan sungguh-sungguh.

Sejak tahun 1849 Asisten Residen Mandailing Ankola berusaha memecah masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, sesuai dengan misi Devide et Impera penjajah Belanda dengan menerapkan gagasannya untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. Sehingga mengangkat Sionggang Oppu merangkap jabatan Kepala Desa Janjiangkola.

Namun, situasi ini bertentangan dengan hati Sionggang Oppu untuk memungut pajak dan memaksa masyarakat pemeluk Parmalim menjadi Kristen. Akhirnya Sionggang Oppu dipindahkan sebagai Karani

Delispoorwynatsehappij (D.Y.M) di Medan dari tahun 1883 sampai 1885.

Siongang Oppu selanjutnya dipindahkan sebagai kerani kantor Comterleur Bindjer Tahun 1891 sampai 1892. Kemudian dia ditugaskan sebagai Kerani Kantor comterleur Pangkalan Brandan dari tahun 1891 sampai 1897. Di Pangkalan Brandan, terkenal sebagai salah satu ladang minyak tertua di Indonesia, terdapat pengeboran sumur minyak dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda, yaitu Royal Dutch Company di Pangkalan Brandan sejak 1885. Sejak itu, kegiatan eksploitasi minyak di Indonesia dimulai. Hasil eksplorasinya digunakan untuk kepentingan pihak Belanda. Sionggang Oppu banyak menabung uang.

Setelah bertugas menjadi Kerani, dia dapat mengumpulkan banyak uang Golden. Saat itu Sionggang Oppu berpikir, dari pada kerani Keresidenan Sumatera Timur lebih baik menjadi Pendeta di kampung sendiri. Aceh, karena Sionggang Oppu yang meminta menjadi Pendeta di Pahae, akhirnya Sionggang Oppu ditempatkan Pemerintah Belanda ke Aceh. Sedangkan kondisi lapangan saat itu, profesi Pendeta menjadi idaman pemuda sebayanya, sehingga mempunyai gengsi. Kemudian dia diutus sebagai Pendeta di Passai, Aceh.

Keberangkatan Sionggang Oppu ke Pangkalan Brandan Kerajaan Aceh Pasai/Perlak (KAP) tahun 1891 dengan perasaan yang berat. Melaksanakan tugas sebagai Pendeta merupakan keinginan sendiri, harapannya sebagai Pendeta di kampung halaman sendiri, akan tetapi ditempatkan sebagai pendeta di Aceh, bertolak belakang dengan permintaan.


 

KAP terletak di sebelah Utara Tanah Batak, bumi kesultanan Aceh yang pertama kali dibangun oleh Sultan Malik As-Saleh pada tahun 1297. Merantau ke Aceh ketika itu merupakan sebuah tantangan yang menarik perhatian tidak hanya bagi Sionggang Oppu, tetapi juga untuk masyarakat Janjiangkola, Pahae, dan Tapanuli Utara merantau ke Aceh melaksanakan misi Pemerintah Belanda.

Kesaktian yang diperoleh Sionggang Oppu di Pusuk Buhit berupa kekuatan Dukun, silat dan ilmu menghilang. Kekuatan ilmu itu membuat dia percaya diri yang tinggi di setiap waktu dan tempat. Namun, hanya bisa digunakan untuk membela kebenaran yang selurus-lurusnya. Dalam arti, bila digunakan ke arah yang tidak lurus, ilmu tersebut tidak akan berarti.

Sekitar tahun 1879, Sionggang Oppu ditangkap ketika mengkristen dua orang masyarakat Pasai. Kemudian dia diperiksa dan terjadi dialog yang tidak kunjung mencapai kata sepakat dengan Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang sebagai tokoh tertinggi dan bertanggung jawab dalam wilayah masyarakat Islam. Akhirnya Sionggang Oppu memutuskan untuk mengadu kesaktian dengan aturan “Yang kalah mengikuti yang menang”.

Sionggang Oppu langsung menunjukkan kehebatannya menerbangkan Losung (Lesung), kemudian dibalas Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang dengan menerbangkan andalu (Alu). Kemudian alu mengejar lesung, terjadilah adu kekuatan, diakhiri kekalahan lesung. Selanjutnya Sionggang Oppu mengeluarkan ilmu menghilang kemudian dibalas Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang dengan ilmu tapak suci, akhirnya fisik Sionggang Oppu terus tampak.


 

Berbagai macam kesaktian sudah dikeluarkan mereka, Sionggang Oppu kehabisan ilmu kesaktian akhirnya Sionggang melancarkan adu fisik.

Kemudian tiba pada adu silat. Sionggang Oppu mulai emosi dan mengayunkan tangan kanan menyerang dengan teknik moccak (silat) Batak dari sisi kiri Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang, kemudian Tuan Syekh mengelak dan sedikit menahan dan menyalurkan kekuatan emosi Sionggang Oppu dengan tangan kiri, sehingga tangan Sionggang Oppu terkunci selanjutnya ditekuk Tuan Syekh, akhirnya Sionggang menyerah. Dengan sikap jentelmen, Sionggang Oppu menerima kekalahan dan mengikuti ajaran Tasawuf Tuan Syekh.

Kemudian Sionggang Oppu sadar, dan mendapat pesan (ilham) dari hatinya, “Unang Alo Hatigoran.” Kesaktian Raja Batak hanya bisa digunakan untuk membela kebenaran yang selurus-lurusnya. Sementara misi Sionggang Oppu tidak melaksanakan kebenaran, akan tetapi diperalat Pemerintah Belanda untuk menaklukkan Aceh yang pada gilirannya mengambil kekayaan masyarakat Aceh bila tidak mau akan ditindas.

Akhirnya, Sionggang Oppu disyahadatkan dengan Nama Ibrahim syarat untuk melaksanakan ilmu tasawuf. Setelah 3 tahun mempelajari Tasawauf di Aceh, Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang menganjurkan Ibrahim menuntut ilmu Tsawuf ke Makkah-Madinah. Selama 19 tahun melaksanakan perjalanan pergi dan kembali serta mengikuti pendidikan di Makkah–Madinah, Ibrahim bertemu dengan banyak Tuan Syekh dari Negeri Batak.


 

Dengan berbekal pengalaman sebagai Dhyaksa dan Sutan Nagari serta tekat untuk membela kebenaran selurus-lurusnya, Ibrahim memadukan ilmu tasawuf dengan ilmu perang yang dimilikinya. Jadilah Tuan Syekh Ibrahim Ulama pertama dari Tapanuli Utara dengan sosok yang berwibawa serta disayangi para Tuan Syekh yang lain di wilayah KAD, sehingga dia ikut membantu Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang membentuk pasukan Sufi untuk bergabung dengan pasukan Teuku Umar.

Dengan berbagai macam tantangan, Tuan Syèkh Ibrahim tidak lupa berdoa. Karena keyakinannya, doa adalah senjata yang bisa mematikan semua kesulitan yang dia hadapi dan temui dalam perjalanan menuju Allah SWT.

Kekalahan kesaktian Sionggang Oppu (Ibrahim) dengan Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang, tumbuh keinginan dan semangat Ibrahim untuk mempelajari ilmu Agama Islam secara serius. Ibrahim nama barunya setelah masuk Islam mengikuti perintah Tuan Guru. Sebagai langkah awal untuk belajar ilmu agama Islam, setiap hari Ibrahim belajar mengaji, sebagai modal untuk mendalamnya ilmu Agama Islam dan metode yang tepat untuk diikutinya.

Ibrahim terus berupaya dengan cepat memahami tentang Islam. Dia tidak mau kehabisan waktu, biaya, dan tenaga untuk menuntut ilmu, karena dia harus meraih Ilmu Tasyawuf. Dia tidak mengenal lelah, berupaya memperoleh ilmu yang banyak dan tertancap dalam hati. Semangat untuk mempelajari ilmu, maka telah membulatkan tekad agar jangan sampai terputus dari jalan ilmu. Dia terus bersemangat dalam berusaha semampunya untuk menghilangkan sebab-sebab


 

kebodohan dari dalam dirinya setelah dia ketahui bahwa Islam adalah agama yang benar, Hatigoran.

Pada seperempat terakhir dari abad ke-18 Kota Makkah dan Madinah sedang gilang–gemilang dalam ilmu pengetahuan, karena di sana banyak menetap ulama Tabi’in (orang yang berjumpa dengan sahabat Nabi).

Kesempatan itu diambil Ibrahim dengan meminta restu dari Tuan Guru, akhirnya restu Tuan Syekh Tengku Abu Menasah Kumbang memutuskan untuk memberi izin kepada Ibrahim meninggalkan Aceh dalam situasi masih perang.

Juni 1893 Ibrahim berangkat dengan kapal laut niaga dari Pelabuhan Pasai menuju Yaman, kapalnya singgah sebentar di Gujarat India. Pada masa itu masyarakat Nusantara mulai membentuk sebuah komunitas di Makkah. Sejak saat itu pula, mulai berdatangan orang-orang dari seluruh penjuru Nusantara untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Ibrahim sebagai pengguna transportasi laut harus mengisi data pribadi sesuai dengan kartu identitas, hal ini berkaitan dengan data di manifest dan kepentingan asuransi. Pada saat embarkasi, Ibrahim sebagai pedagang Kemenyan tidak perlu berebut atau berdesak- desakan, karena dia masuk lebih awal dari pada pedagang lain.

Setelah sebulan berlayar, melintasi semua kepulauan di kawasan Samudera dan Pasifik tiba di Gujarat. Ibrahim memindahkan barangnya ke kapal yang akan berangkat menuju Aden. Sebelum tiba Aden, kapal berhenti sejenak di Pelabuhan Al Mukalla.


 

Setibanya di Pelabuhan Al Mukalla, Ibrahim turun dengan hati yang bahagia dan mengawasi penurunan barang dagangannya.

Ibrahim bermalam di Mukalla selama seminggu, menunggu pembeli bahan dagangannya. Setelah bahan dagangannya sudah terjual, Ibrahim tetap bermalam di Mukalla untuk merencanakan perjalanannya ke Yaman, persiapan menghadapi Puasa Ramadhan.

Setelah istirahat seminggu di Mukalla dataran tinggi antara daerah laut dan pegunungan dengan letak geografis yang sangat potensial, sehingga kota ini terkenal sebagai kota penghasil sumber daya laut. Ibrahim segera bergerak menuju Kota Yaman sejauh 129,84 Kilometer, dengan harapan dia bisa berpuasa di Yaman selama sebulan penuh. Jarak yang harus ditempuh, dicicilnya setiap hari 30 kilometer, diperkirakan dapat ditempuh selama 5 (lima) hari.

Ibrahim tinggal di Yaman selama 1 (satu) bulan penuh melaksanakan puasa Ramadhan, karena Yaman tanah para Waliyullah, tanahnya para ulama besar, dan juga kampungnya Dzuriyyah Rasul (anak keturunan Rasulullah).

Sejak berangkat dari Aceh, Ibrahim sudah berharap tiba di Al-Mukalla sebelum bulan Ramadhan. Dia bersyukur kepada Allah perjalanan dengan kapal dagang dari Aceh tiba di Al-Mukalla 14 Syakban 1310 H.

Ibrahim berangkat dari Yaman pada bulan Syawal, dalam perjalan musafir, Ibrahim ingat kembali pesan Tuan Syekh Tengku Abu Meunasah Kumbang, Hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Muslim, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada

seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, "Siapa ini?" Orang-orang pun mengatakan, "Ini adalah orang yang sedang berpuasa." Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Bukanlah suatu yang baik seseorang berpuasa ketika dia bersafar."

Dengan penuh kesabaran, Ibrahim tiba di Kota Baljurashi. Dia istirahat 2 (dua) hari di Baljurashi dan bertemu dengan tuan guru, sambil belajar agama Islam dan memperdalam bahasa Arab.

Dari Baljurashi ke Al Baha ditempuh 6 Jam 40 menit dengan jalan kaki. Ketika dia istirahat siang dan hendak salat Zuhur jamak dengan Ashar dan makan, tiba-tiba datang seorang musafir tua berjalan mendekati Ibrahim. Si musafir tua itu berkata kepada Ibrahim. Dengan bahasa arab, "Ya Bapak setengah baya, saya lapar sekali, berilah saya makanan. Saya tak punya makanan lagi, saya pun tak punya uang untuk bekal pulang. Tolong saya ya, Bapak"

Ibrahim lalu menjawab, "Sayang aku hanya memiliki satu bungkus ini saja, bagaimana kalau kita bagi dua? Dan aku hanya bisa berikan kepadamu 10 Dirham, Sedangkan Ibrahim memiliki sisa 1000 Dirham hasil penjualan kemenyannya di Al Mukalla, Cukuplah untuk bekal Ibrahim sampai ke Makkah. Padahal Ibrahim harus berjalan satu malam lagi agar sampai di kampung tempat orang istirahat dan membeli bekal Etape perjalanan berikutnya.

Dengan hati ikhlas, Ibrahim memberikan makanan yang akan dimakan di tempat istirahat berikutnya. Ibrahim begitu terharu dan tak kuasa menahan tangis, orang tua dalam perjalanan kehabisan makanan, dan dia juga harus merasakannya di tempat istirahat yang akan datang, harus melaksanakan perintah Ilmu yang diterima dari Tuan Syekh Tengku Abu Meunasah Kumbang, karena Allah SWT.

Setelah mereka makan siang, Ibrahim pun memberikan uang 10 Dirham dengan wajah tersenyum, karena telah menjadi sahabat. Kemudian mereka saling berdiri dan melanjutkan perjalanan. Ibrahim menuju arah Al-Baha dan musafir tua ke arah Al-Qunfudzah.

Setiba di Al Baha, Ibrahim istirahat 2 (dua) hari, menemui tuan guru dan belajar Agama Islam serta belajar Bahasa Arab.

Dari Al Bahah menuju Makkah melintasi Kota Turbah dan Ashayrah selama 84 Jam. Tiap hari dia cicil 7 (tujuh) Jam, diperkirakan tiba 12 Hari. Dari Al Bahah Ibrahim mengganti onta yang baru.

Setelah 2 (dua) hari istirahat dan belajar. Ibrahim melanjutkan perjalanan menuju Mekkah. Setelah berjalan 4 (empat) jam, perasaan Ibrahim merasa sudah dekat dengan Mekkah. Kemudian dia istirahat melaksanakan salat Zuhur jamak Ashar. Saat akan duduk, Ibrahim menemukan tiga telur burung. Kemudian telor tersebut disimpan di Hadakkadangan (tas selempang) untuk dimakan setelah salat Zuhur.

Setelah istirahat Ibrahim melanjutkan perjalanannya. Kemudian berjalan 3 (tiga) jam berikutnya, akan tiba waktu salat Magrib, Ibrahim pun istirahat dan memasang tenda. Setelah melaksanakan salat, Ibrahim duduk di bawah pohon, kemudian mengambil tiga telur yang disimpannya dari tas selempang.

Ketiga telur itu direbusnya, diambilnya 1 (satu) butir, 2 (dua) butir lagi disimpannya. Ketika dia


 

mengupas telur itu, kemudian dia kaget melihat sinar merah, dibelahnya telur itu, ternyata berisi batu Merah Delima, Ibrahim terus bersujud syukur atas karomah yang diperolehnya lalu disimpannya ke dalam tas selempang.

Kemudian dia mengambil telur kedua hendak dimakannya, sedangkan telur yang ketiga disimpan untuk bekal berikutnya. Ketika mau dikupasnya, tiba tiba datang seorang laki-laki berbadan besar berniat merampasnya, akhirnya terjadi perkelahian.

Bekal kesaktian yang dimilikinya, Ibrahim menarik rambut laki-laki tersebut, kemudian tersungkur. Rambut itu pun disimpannya sebagai bukti. Kemudian lelaki itu pun menyerah kalah. Rambut tersebut disimpan di tas selempangnya. Kemudian telur ketiga diberikan Ibrahim kepada laki-laki itu.

Setelah selesai makan, mereka pun berdialog, ternyata dia adalah anak Raja Jin Gurun Sahara. Selanjutnya Jin bersahabat dengan Ibrahim. Jin atas Ridho Allah SWT menemani Ibrahim sampai ke Mekkah.

Salat Isya’ mereka berjamaah, Ibrahim diminta jin sebagai imam, pada saat melafazkan Fatihah, Jin menegor Ibrahim membenarkan tajwidnya. Setelah Selesai salat, Ibrahim mengingat tajwid yang diingatkan Jin.

Kemudian Ibrahim mau istirahat, dicegah oleh Jin, kita harus terus berjalan. Dengan semangat perjuangan, Ibrahim ingin cepat sampai ke Mekkah, dia menuruti dengan bahasa tubuh, tanpa suara. Setelah berjalan beberapa saat, Ibrahim tertidur.

Akhirnya, tiba-tiba Ibrahim tersentak dari tidurnya, terperangah, kemudian dia bertanya pada dirinya, ”Aku di mana?”

Mendengar suara Azan, Ibrahim sadar bahwa dia sudah tiba di Masjidil Haram Mekkah, dia melihat Ka’bah, kemudian dia bersujud. Selanjutnya Ibrahim melaksanakan wudu dan melaksanakan salat Subuh berjamaah.

Setelah salat Ibrahim sadar, memeriksa barang- barangnya, semuanya lengkap tidak satu pun yang hilang. Akan tetapi dia sadar, bahwa Unta yang digunakannya tidak ada. Kemudian dia keluar Masjid mencari untanya, tetapi tidak ditemukannya. Pada saat itu Mekkah Musim dingin, akan tetapi dia tidak membawa pakaian dingin, sehingga badannya terasa menggigil.

Karena udara musim dingin yang tak tertahankan, hingga menembus kulit sampai ke tulang, Ibrahim mencari tempat berlindung dari embusan angin Subuh, hingga dia tertidur.

Tiba-tiba dia merasa dibangunkan oleh sesorang, kemudian dia tersentak ketika membuka matanya, “Subhanallah, Engkau mempertemukan hamba dengan bapak musafir tua, Syekh Sulaiman Zuhdi. Alhamdulillah, La ilaha illallah.”

“Assalamualaikum,” sapa musafir tua.

“Wa’alaikumsalam warahmatullaahi wabarakatuh,” jawab Ibrahim. Mereka berdialog dengan bahasa Arab, dengan kemampuan bahasa Arab yang belum sempurna, Ibrahim menjawab semua pertanyaan Syekh Sulaiman Zuhdi. Tanya Jawab dalam dialog mereka berlangsung sangat akrab.


 

Kemudian Syekh Sulaiman Zuhdi mengajak Ibrahim singgah ke rumahnya. “Alhamdulillah,” ucap Ibrahim. Mereka segera pergi meninggalkan Masjidil Haram, berjalan kaki sekitar 3 (tiga) kilometer ke sebelah utara Masjidil Haram, menuju rumah Tuan Syekh Sulaiman Zuhdi.

Sambil berjalan kaki, Tuan Syekh Sulaiman Zuhdi memberi zikir kepada Ibrahim, dia langsung mengamalkannya.

Hari demi hari, Ibrahim tidak melewatkan waktu bertemu dengan Syekh Sulaiman Zuhdi dan belajar mendalami Agama Islam. Setelah dua bulan lamanya, Ibrahim tertarik belajar Tarekat Naqsabandiyyah dari Syekh Sulaiman Zuhdi.

Tiba bulan Zulhijjah, Ibrahim disarankan Syekh Sulaiman Zuhdi untuk melaksanakan Haji. Setelah Ibrahim melaksanakan haji, Syekh Sulaiman Zuhdi semakin melihat kejujuran dan akhlak Ibrahim menghormati orang tua. Pertemuan mereka memang sudah diatur oleh Allah SWT. Terbuka pikiran Tuan Guru untuk membawa Ibrahim berdagang.

Syekh Sulaiman Zuhdi mempunyai kegiatan dagang sejak anak muda, yang diwariskan oleh ayahnya. Pada suatu malam, setelah selesai dialog dan belajar agama, Syekh Sulaiman Zuhdi bertanya kepada Ibrahim, “Mau kah Ibrahim saya ajak berdagang ke negeri Thaif sebulan sekali?”

Ibrahim menjawab, “Insha Allah Mau.”

Syekh Sulaiman Zuhdi bercerita, akhir-akhir ini sering saya mendengar keluhan-keluhan pedagang, ketika hasil dagangannya tidak lagi mendapatkan berkah. Terkadang,  keuntungan besar yang diperoleh


 

hilang dalam sekejap, menguap alias habis sangat cepat bagaikan uap. Sesungguhnya keadaan seperti ini pernah terjadi pada tahun-tahun pertama Rasulullah Muhammad SAW bersama kaum muhajirin hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Kepandaian Ibrahim semakin menunjukkan bakat berdagang pada diri Ibrahim. Bukan hanya ilmu Tarekat yang diterima Ibrahim dari Tuan Syekh, akan tetapi banyak ilmu kesaktian yang diperolehnya. Akhlak Tuan Syekh Sulaiman Zuhdi menjadi semakin memperbaiki akhlak Ibrahim.

Setelah melaksanakan Ibadah Haji, Ibrahim di ajak Tuan Syekh Sulaiman Zuhdi Menghadiri majelis ilmu, hadirlah para imam-imam mazhab Syafi’i. bertemulah Ibrahim dengan ulama-ulama dari Indonesia dan para murid-murid Tarekat Naqsabandiyyah bermazhab Syafi’i, termasuk Mustafa Husen dari Panyabungan.

Ibrahim terus memperdalam ilmu Agama Islam yang lebih khusus untuk mempermudah perjuangannya mengusir Belanda dari Tanah Batak. Bertanyalah dia kepada Tuan Syekh, kemudian Tuan Syekh Sulaiman Zuhdi membawa Ibrahim bertemu dengan Syekh Nawawi al-Bantani (Abu Abdul Mu’thi, Muhammad bin Umar bin ‘Ali Nawawi al Jawi al Bantani) untuk mempelajari kitab-kitab perang.

Syekh Nawawi Al Bantani, dari sekian ulama yang banyak menguasai “Rubu’ (seperempat) Jinayat” dari 4 (empat) bagian kitab-kitab Fiqih Syafi’iyah.

Setelah Sekian Tahun, Tuan Sulaiman Zuhdi mengajak Ibrahim ke Madinah dengan tujuan ingin bertemu dengan Tuan Guru Fikih bermazhab Syafi’i, untuk memperdalam ilmu fikih.


 

Setelah 2 (dua) bulan Ibrahim berada di Mekkah, dia melaksanakan Haji atas saran dari Syekh Sulaiman Zuhdi, untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima. Ibadah haji hanya dilaksanakan di Mekkah, bagi yang mampu secara non fisik dan fisik.

Non fisik adalah dukungan berupa keuangan untuk memenuhi pengadaan bahan makanan dan kurban, tetapi yang paling utama dari segalanya adalah niat dan tekad serta ketakwaan. Tanpa itu Allah tidak menunjuk kita melaksanakan haji, sekali seumur hidup, menjadi paripurna dari keislaman seorang muslim.

Setelah melaksanakan haji, Ibrahim kembali ke rumah Syekh Sulaiman Zuhdi untuk melaksanakan pengajian dan menimba ilmu Tarekat Naqsyabandiyah.

Ibrahim, pria Janjiangkola berusia 37 tahun berangkat dari Aceh ke Al-Mukalla melalui pelabuhan Aden Yaman pada tahun 1893. Untuk mencapai Kota Makkah, dia melewati Yaman dengan berjalan kaki sejauh 6.387 kilometer. Perjalanan panjangnya berakhir dengan sebuah mimpi, bagaikan cerita Aladin Lampu Rahasia. Ibrahim disambut Malaikat.

Meskipun perjalanannya mengandung “risiko”, tetapi Ibrahim merasa aman dan bisa tiba dalam keadaan selamat.

Dia mengatakan, orang-orang yang ditemui selama perjalanan sangat ramah dan memberikan dukungan kepadanya. Di Makkah ada orang yang bersedia memberikannya akomodasi. Jalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh, bukanlah barang baru untuk Ibrahim. Pada sekolah dari Janjiangkola ke Tarutung 37,6 Kilometer setiap minggu pada tahun 1845 hingga tamat sekolah Zendling selama 7 tahun .

Rumah pengajian Tarekat Naqsyabandiyah yang didirikan Tuan Syekh Ibrahim dan para pengikutnya 1907, hasil penelitian di lapangan sudah tidak ada, bahkan kitab-kitabnya pun sudah tidak ada di ahli waris, sehingga hasil renungan penulis, mengasumsikan salah satu Rumah Pengajian Tarekat dan hasil dialog dengan Mursyd, Tuan Syekh Misno, pimpinan Jama’ah Tadzkir Islamiyah Thoriqat Naqsabandiyyah, Pantai Labu, Deli Serdang, Sumatera Utara, sama dengan Rumah Pengajian Tarekat Tuan Syekh Ibrahim

Seseorang yang ingin menjadi Salik, seperti apa yang dilakukan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul di Jabal Abu Qubais, Mekkah, diasumsikan kepada seseorang yang menjadi Salik di Rumah Pengajian Jama’ah Tadzkir Islamiah kecamatan Pante Labu Kabupaten Deli Serdang.

Sewaktu kembali dari Makkah, Tuan Syekh Ibrahim membawa beberapa pedang ke kampung halaman sebagai persiapan untuk berperang melawan Belanda. Ajaran Tarekat Naqsabandiyyah telah merubah perilaku sosial Ibrahim yang zuhud.

Tarekat menjadi salah satu jalan yang ditempuh oleh Tuan Syekh Ibrahim (Sionggang Oppu) dalam usahanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hubungan ajaran ini Sionggang Oppu ingin ibadahnya lebih baik dari sebelumnya, walau terkadang ada juga godaan yang dihadapinya. Namun, yang ibadahnya tetap, bahkan lebih baik karena dia beranggapan, dia telah masuk tarekat dan ia akan selamat walau melakukan perbuatan yang dianggap orang salah.

Pengaruh lain yang ditunjukkan sikapnya, (Sionggang Oppu) Tuan Syekh Ibrahim sangat mencintai kedamaian dan ketentraman bagi masyarakat. Karena ia menjalankan aturan dengan sungguh-sungguh dan bukan hanya karena menggugurkan kewajiban melaksanakan ibadah saja, sehingga tidak membeda-bedakan mana yang kaya maupun yang miskin.

Tuan Syekh Ibrahim setelah menguasai ajaran Tarekat Naqsabandiyyah dalam kehidupan bermasyarakat, menjalin persaudaraan dengan sesama anggota masyarakat lainnya dengan memelihara tali silaturahmi dan saling menolong satu sama lain, baik sesama muslim maupun non muslim, sehingga masyarakat Janjiangkola semakin mencitainya.

Tuan Syekh Ibrahim sejak kecil dan dewasa memiliki sifat sosial tinggi, bertambah baik ketika ia mengenal atau mengerti tentang pentingnya hidup bermasyarakat dalam ilmu Tarekat dan dalam Islam ada hubungan “Hablum Minallah Wa Hablu Minannas” yang menerangkan bahwa hubungan manusia tidak hanya dengan Penciptanya saja, melainkan dengan sesama makhluk pun harus bisa rukun dan sejahtera.

Sosok Tuan Syekh Ibrahim Sitompul, secara diam- diam membangun misi kekuatan Sufi, seperti yang dilakukannya pada saat melaksanakan program Kristenisasi di Aceh untuk memprovokasi masyarakat dan tindakan-tindakan untuk mendorong semangat masyarakat di mana pun dia temui untuk merdeka. Khususnya membangun perlawanan rakyat Janjiangkola dan sekitarnya terhadap kekejaman Belanda terhadap masyarakat Tapanuli.

Tuan Syekh Ibrahim Sitompul memilih menetap di Janjiangkola dan meminang calon istrinya Siti Mariyam Putri pertama Tuan Syekh Abdul Khadir Pakpahan dari Sipirok Poldung Lombang.


 

Sikap yang ditampilkan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul dapat dilihat dari sisi kelembutan dan ketegasan serta ketenangan. Tiga sisi sikap ditunjukkan beliau kepada masyarakat berbeda yang ditunjukkannya kepada Pemerintah Belanda, agar masyarakat tidak memihak dan mengikuti langkah-langkah penjajah Belanda.

Ia mengatakan Belanda itu adalah intimidator yang ingin merusak Dalihan Na Tolu sebagai pedoman hidup masyarakat Batak.

Setelah Ibrahim meninggalkan Janjiangkola lebih kurang 19 tahun, setiba di Janjiangkola, rindu ingin bertemu kaum kerabatnya, semakin kuat. Ibrahim mengatur waktu pagi bertemu dengan tulangnya, siang bertemu dengan amangboru dan malam bertemu dengan keluarga bapak uda dan bapak tua. Diurut mulai dari kerabat di Janjiangkola, Lakkitang Pahae, Tarutung dan Tapanuli sekitarnya.

Setiap orang yang ditemuinya, selalu bertanya, “Apa jabatanmu sekarang?”

Pertanyaan itu hanya dijawabnya, “Ndang adong be gogo karejo dohot Bulanda. Jawaban itu langsung membuat setiap orang kaget, karena mereka tahu bahwa Sionggang Oppu adalah kesayangan orang Belanda.

Mereka bertanya lagi, “Apa masalahnya kamu berhenti?”

Sionggang Oppu menjawab dengan tenang, ”Janjiangkola, Pahae, Silindung dan Tapanuli harus merdeka/bebas dari penjajahan PHB. Tidak ada hak PHB meminta pajak, kita harus menolak kerja paksa. Kita harus memantapkan Dalihan Na Tolu untuk


 

membangun persatuan dan kesatuan Bangso Batak, agar mampu melawan taktik adu domba dan kerja paksa Belanda, kalau tidak! Tanah Batak milik Orang Belanda. Harus  dilawan,                meneruskan         perjuangan Sisingamangaraja XII.”

Ketika baru tiba di Janjiangkola, kesan pertama yang dilihat Syekh Ibrahim, bahwa kehidupan masyarakat lebih buruk dari pada 19 tahun yang lalu. Syekh Ibrahim berupaya merasakan hati masyarakat Janjiangkola, berupaya mendekati PHB untuk mendapat keterangan, masih adakah kebaikan orang Belanda? Dia berupaya menghilangkan dendam kepada orang Belanda, agar Syekh Ibrahim bisa mendengar kebaikannya orang Belanda.

Syekh Ibrahim berupaya semaksimal mungkin mendengar pesan dan suara hatinya, menghilangkan bencinya kepada orang Belanda, mendekati mereka, dan membuka perasaan orang Belanda dengan tidak bermaksud jahat, demikian pula kepada masyarakatnya mengapa mereka tidak ada perubahan?

Tiba suatu hari, Ibrahim berzikir dan mendengar suara hatinya, menghilangkan nafsu amarah terhadap informasi yang didengarnya dari masyarakat dan kaum kerabatnya, bahwa orang Belanda orang tamak, memeras hak rakyat.

Di sisi lain, Ibrahim harus membina hubungan yang baik dengan orang Belanda agar bisa berkomunikasi dengan mereka, untuk mengetahui perkembangan kebijakan PHB. Masyarakat sebagian ada yang curiga dan berpikir serta banyak fitnah yang beredar, bahwa Ibrahim ingin membantu orang Belanda semakin menyakiti hati masyarakat Janjiangkola. Dua suara menggoda nafsu amarah dan cuek, terus


 

dilawannya dengan kesabaran, hingga Ibrahim mengambil sikap menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang baik.

Hari-hari berganti, Ibrahim bekerja terus untuk menyatukan hatinya dengan hati masyarakat. Di samping itu, merasa godaan nafsu setan atas fitnah dari masyarakat dan suara rayuan dunia dari PHB kepada Ibrahim agar sejalan dengan mereka. Ibrahim lebih mendengarkan suara hatinya, dari pada kebisingan suara hati dunia. Ibrahim berzikir ke dalam hutan dekat Sampuran (Air terjun) Pariama. Alhamdulillah Ibrahim dapat petunjuk untuk mengislamkan ayahnya dan membangun masjid.

Mulailah Syekh Ibrahim banyak menghabiskan waktu bercerita dengan ayahnya, baik cerita pengalaman pertama masuk Islam, maupun perjalanan dari Aceh menuju Mekkah dengan perjalanan jihad untuk perubahan hidup dalam mempelajari ilmu Tarekat menjadi Sufi.

Alhamdulillah, ayahnya (Sutan Eret) berkenan hijrah memeluk agama Islam, akhirnya Syekh Ibrahim mengajari ayahnya bersyahadat, kemudian ayahnya berkenan diberi nama “Abdillah”. Nama ini telah direncanakannya sejak berada di Mekkah, berdoa di depan Ka’bah, kemudian ditulis dalam ijazahnya Tarekat Naqsabandiyah, Haji Ibrahim bin Abdillah.

Petunjuk Allah mengislamkan ayahnya, terus berkembang sampai kemudian Syekh Ibrahim mengajak keponakannya dan saudaranya yang lain masuk Islam. Keponakannya Daulad Panggabean diganti namanya menjadi Malim Muda Panggaben.


 

Setelah beberapa saudara dan masyarakat yang sudah memeluk agama Islam, Syekh Ibrahim mengajak ayahnya dan saudara-saudaranya untuk membangun Masjid. Alhamdulillah, masyarakat non muslim juga datang membantu Syekh Ibrahim membangun masjid. Di sinilah kesempatan Ibrahim merasakan kasih sayang masyarakat.

Hubungan kekerabatan dilandasi dengan ajaran Dalihan Na Tolu” semakin mendorongnya untuk memadukan ajaran Sufi Tarekat Naqsaabandiyyah dengan ajaran budaya Batak “Dalihan Na Tolu” untuk diimplementasikan dalam berhubungan dengan kaum kerabatnya dan masyarakat yang kuat dengan adat dan istiadat.

Dalam istiadat, dia terus menerapkan tutur kata, sopan santun dan empati kepada semua orang yang dikenal dan yang belum dikenalnya, berdasarkan Dalihan Na Tolu.

Dalam kehidupan sosial, Ibrahim selalu mendahulukan orang lain. Ketika Ibrahim memperoleh rezeki dia mendahulukan kebutuhan saudaranya di Janjiangkola termasuk kerabat yang belum masuk Islam. Ketika dia belum mendapat rezeki, Ibrahim selalu memuji Allah dan bersyukur. Sikap itulah yang membuat masyarakat Janjiangkola sayang dan semakin sayang kepada Ibrahim.

Alhamdulillah, hubungan dengan masyarakat yang semakin akrab, Syekh Ibrahim dipanggil masyarakat dengan “Oppu Tuan”. Panggilan yang akrab itu, digunakan Syekh Ibrahim memantapkan hubungan kekerabatan Dalihan Na Tolu, Masyarakat sangat senang, ketika bertemu mereka dapat saling melepaskan kerinduan dan saling menyampaikan isi hati.

Ibrahim menjadi figur masyarakat, fisiknya melambangkan sosok orang yang kuat, dan perilaku yang ramah dan cerdas, menjadi perhatian dan sambutan yang meriah bila bertemu dengan masyarakat Janjiangkola. Di samping itu, Ibrahim sering ikut marsiadapari (gotong royong) ketika memulai membuka sawah dan panen padi.

Setiap kembali dari perjalanan perdagangan, kadang-kadang Ibrahim memberi cinderamata kepada masyarakat yang disiapkannya selalu ketika pulang dari sebuah perjalanan, dari Barus, Jambi bahkan dari Negeri Selangor Malaysia. Kegembiraan masyarakat mendorong semangat Tuan Syekh Ibrahim kembali membangun Janjiangkola agar setara dengan kampung lain seperti dahulu.

Setelah ayahnya, ibunya dan adiknya serta beberapa kerabatnya memeluk agama Islam, dia ajarkan kepada mereka tata tertib dan tata cara salat serta bacaannya. Kemudian Ibrahim, menyampaikan cerita dalam dakwah kepada ayah dan ibunya, ikut serta juga semua saudaranya yang lain dan ingin masuk Islam di rumah ayahnya.

Khusus kepada Malim Muda Panggabean diberi kelebihan ilmu karena dia disiapkan menjadi cadangan Imam kalau Syekh Ibrahim berangkat ke luar kota.

Selang Beberapa hari kemudian, dakwah Syekh Ibrahim diketahui masyarakat yang tidak suka kepada Ibrahim dan dilaporkan kepada Residen Tapanuli, bahwa ayahnya sudah memeluk agama Islam, akibatnya PHB memberhentikan Sutan Eret dari Kepala Nagori Janjiangkola.

Syekh Ibrahim tetap tenang, tidak membuat gerakan perlawanan, tetapi semakin giat menyiapkan kekuatan untuk melawan secaran non fisik, sesuai dengan ilmu Sufi harus tenang dan siap tempur.

Sebagai Pamukka Huta, yang diberi Sahala oleh Mula Jadi Na Bolon, yang dipatuhi masyarakat, pemberhentian Sutan Eret dari Kepala Nagori Janjiangkola, membuat hati masyarakat tersinggung dan marah kepada PHB, karena Sutan Eret adalah orang yang berjasa dalam hidup masyarakat serta sangat pandai maradat.

Dengan kesabaran seorang Sufi, Syekh Ibrahim harus     menang,     sehingga     termotivasi                untuk meningkatkan pergerakannya membela kebenaran, dengan strategi menghubungi dan melakukan pendekatan ke Batavia melalui usaha mengirim surat dan menyebarkan ilmu Tarekat kepada masyarakat di dalam dan di luar Janjiangkola serta Tapanuli Utara. Bila dia keluar Janjiangkola, ditunjuknya Malim Muda Panggabean sebagai Pengganti Mursyid dan Imam di Masjid.

Pada 1908, setelah menikahi putri Tuan Syekh Abdul Khadir Pakpahan dari Sipirok Poldung Lombang, dia membangun rumah tempat tinggal di Lobu Handis (saat ini desa Janjinauli), sampai saat ini masih berdiri kokoh, dekat Masjid Janjiangkola (Masjid pertama di Tapanuli Utara dan saat ini sudah dipugar diubah namanya menjadi Masjid Al Hamidi).

Lingkungan tempat tinggal Ibrahim dibangunnya pertahanan yang kuat, agar sulit didatangi orang yang


 

berniat jahat dan yang melanggar syariat Islam serta Tentara PHB. Syekh Ibrahim membangun pertahanan keliling kompleks rumah dengan menanam pohon Jelatang (sudah ditebang ahli waris) dan membangun Sumur Hidup (saat ini sudah ditutup karena berbahaya) dengan menggunakan ilmu kesaktian yang dimilikinya.

Membina hubungan dengan masyarakat adat, mengundang masyarakat pada hari-hari tertentu dengan memutar piringan lagu-lagu yang dapat menyenangkan hati masyarakat untuk membangun keakraban masyarakat Janjiangkola dalam hidup Dalihan Na Tolu yang tidak bertentangan dengan Hukum Islam.

Masyarakat semakin banyak datang menemui Syekh Ibrahim, sehingga Janjiangkola kampung yang ramai, baik agama Islam maupun Kristen, sesuai dengan kepentingannya. Sehingga Asisten Residen Tapanuli tak mampu membendung gerakan Syekh Ibrahim.

Namanya semakin dikenal di pelosok Tapanuli dengan berbagai macam berita kesaktian yang dimilikinya. Tentara Belanda bila mendekati Syekh Ibrahim agak takut, karena Syekh Ibrahim selalu istiqomah dalam hidup, dan tidak memelihara dendam kepada siapa pun, bahkan kepada orang Belanda.

Sikap Tuan Syekh Ibrahim kepada anak-anaknya, putri-putrinya, dan keponakan-keponakannya hingga akhir hayatnya ditunjukkannya dengan cinta kasih, asah, asih dan asuh setiap saat.

Bahkan seminggu sebelum beliau meninggal, Riana Boru Panggabean yang dibesarkannya sejak kecil seorang anak yatim, anak dari Malim Muda Panggabean, ibunda penulis, menemui Syekh Ibrahim


 

di Janjiangkola. Pada saat itu beliau masih sehat dan gerak fisiknya masih sempurna, beliau berpesan kepada Riana, agar jangan meninggalkan salat dan sedekah serta mengimplementasikan ajaran Dalihan Na Tolu, ikkon (mutlak) dipadomu tu (dikaitkan dengan) Syariah Islam.

Cerita Syekh Ibrahim itu, setiap saat diceritakan kembali oleh (ibunda penulis) kepada penulis. Cerita itu selalu mengingatkan pesan Tuan Syekh Ibrahim dan sering diceritakannya kembali kepada semua anak dan putrinya, bahwa “Dalihan Na tolu” adalah pesan Raja Batak kepada semua orang Batak, yang dipesankan Raja Batak kepada kedua anaknya, Oppung Guru Tatea Bulan dan Oppung Raja Isombaon, serta kepada delapan cucu laki-laki dan lima cucu perempuan.

Pesan Dalihan Na Tolu adalah pesan persatuan dan kesatuan yang harus diamalkan seluruh masyarakat batak dan tidak berubah (tetap sesuai) dengan perkembangan zaman yang modern, untuk menjaga persaudaraan dan kebersamaan serta keseimbangan dan hatigoran (kebenaran).

Filosofi Dalihan Na Tolu seperti tiga tiang, dalam kehidupan sosial manusia yang diikat dengan tali perkawinan, kebenaran Patik dan Uhum. Dalihan Na Tolu sebuah perjanjian adat istiadat Batak yang sangat berharga dalam kehidupan pomparan Raja Batak, anak, Boru dohot Berena.

Filosofi ini, bisa juga diuraikan dengan gambaran bagaikan tiga tungku tempat diletakkannya kuali memasak makanan yang akan diserahkan kepada anak, Boru dohot Berena. Dalihan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “tungku”, Na adalah “yang” dan tolu adalah “tiga”. Dalihan Na Tolu adalah kebahagiaan yang diperoleh dari Tuhan harus menyatukan tiga tungku yang kuat.

Tungku tempat memasak sejak dari nenek moyang manusia, rata-rata tiga tungku, karena kalau empat, alat masak kuali akan goyang, kalau diaduk makanannya, kualinya bisa jatuh. Demikian kehidupan ini, bumi itu bulat, kalau empat tiangnya maka bumi ini akan goyang, kalau tiga maka dia akan kuat. Maka dalam dunia ini ada Raja (Kepala/ketua), Tokoh (cerdik pandai, alim ulama, pendeta dll) dan pelaksana. Dalam politik terdapat Trias Politika.

Demikianlah Raja Batak sebelum meninggalkan anak-anak dan cucu berpesan untuk mengatur kehidupan ini, yang diartikan dengan Dalihan Na Tolu. Kehidupan ini terus berkembang biak hingga Tuhan menentukan kiamat, untuk memelihara bumi oleh manusia yang bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar bisa saling mengenal dan menjaga keseimbangan dan kebenaran.

Implementasi filosofi Dalihan Na Tolu harus dilaksanakan sebagai Ajimat orang batak, bukan teori yang disimpan dalam buku, tetapi filosofi Dalihan Na Tolu terdapat dalam jiwa setiap orang Batak. Namun, kadarnya sesuai dengan kekuatan dan kemauannya masing-masing. Kekuatan itu terbagi dua, ke dalam dan ke luar dari jiwa masing-masing. Ke dalam tiga menjadi satu, ke luar satu menjadi tiga. Tiga itu adalah somba marhula, elek marboru, dan manat mardongan tubu. Satu itu adalah kebahagiaan (Hamoraon, hagabeon, hasangapon dan tarbarita) yang mengandung kebenaran dalam adat istiadat.Dongan tubu/sabutuha atau kawan semarga atau saboltok merupakan kelompok yang bersifat permanen,  tetap atau hot, sementara Hula-hula dan Boru bersifat tidak tetap atau berubah pada waktunya, sesuai dengan rencana kembang biaknya (Pernikahannya). Masyarakat Batak telah menganut paham patrilineal atau garis ayah karena leluhur pemersatu yang mewariskan marga Ayah adalah keturunannya laki-laki.

Demikian sayangnya Ibrahim kepada borunya, mengikuti Dalihan Na Tolu, elek marboru. Sehingga dalam perjuangan Ibrahim membangun persatuan dan kesatuan di Janjiangkola, bahkan seluruh Tapanuli. Lebih khusus ketika Ibrahim Ketua Serikat Islam 1915, menggerakkan perjuangan melawan penjajahan PHB, masyarakat Tapanuli mendukung walaupun berbeda agama.

Tuan Syekh Ibrahim terus mengunjungi semua wilayah Sumatera Utara (red, saat ini) menjadikan dia populer di masyarakat Residen Tapanuli. Dia dikenal sebagai seorang yang moderat, beliau jarang mengeluarkan kata-kata yang keras.

Falsafah, pedoman dan struktur hubungan sosial Dalihan Na Tolu” yang dimiliki masyarakat Batak, juga berlaku dalam berpikir, bersikap serta bertindak dalam masyarakat luas, bahkan dunia. Sistem kekerabatan orang Batak itu mempunyai nilai yang sama dengan kepribadian dan masyarakat adat lain di Indonesia serta Pancasila dan ajaran Sufi. Nilai yang sangat penting adalah keseimbangan menjaga perbedaan, keadilan menjaga kebenaran dan kebersamaan menjaga persaudaraan dan persatuan.

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut, ada saatnya menjadi hula hula, ada saatnya menempati posisi boru dan dongon tubu. Kondisi ini pernah dialami Tuan Syekh Ibrahim Sitompul.

Berceritalah Umri Sitompul (cucu Syekh Ibrahim paling muda), sambil mengopi, dia menuturkan sebuah pesta tulang Oppung Tuan dalam rangka membayar adat adik sepupunya (tunggane Syekh Ibrahim), agamanya Kristen, posisi Oppung Tuan sebagai bere dari tulangnya dan sebagai boru dari tungganenya, karena istri Oppung Tuan juga Boru Pakpahan.

Sebagai tokoh dan Imam masjid yang melekat dalam dirinya, dia lepas, karena dia mengatakan, “Kalau Tulang tidak ada, siapalah yang memberi saya berkat, karena saya masih orang Batak”. Dalam acara tersebut seyogyanya dia posisi pelayanan di dapur (masak dan cuci piring), karena sesuatu hal dia di tempat pelayanan tertib acara membantu dongan tubu tulangnya.

Demikian juga, kalau dalam sebuah acara adat Batak, seorang Jenderal harus siap bekerja untuk melayani dan mensukseskan ulaon keluarga pihak istrinya, walaupun pihak istrinya kebetulan seorang Kapten.

Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan sistem demokrasi, karena mengandung nilai-nilai yang universal (keseimbangan, keadilan dan bersamaan). Keharmonisan adat Batak dalam lingkaran Dalihan Natolu Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa, “Roda Kehidupan Akan Selalu Berputar“. Setiap orang tidak selamanya di atas dan tidak pula selamanya di bawah dalam seluruh perjalanan hidupnya. Begitulah filosofi “Roda Berputar“, itu telah melekat dan menyatu ke dalam filosofi adat masyarakat Batak.

 

Sebagian besar orang Batak sudah beragama Kristen atau Islam. Namun, sebelumnya mereka menganut kepercayaan Parmalim, Tuhan adalah Mulajadi Nabolon. Menyangkut 3 roh dan jiwa, inilah konsepnya. Tondi, adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Orang yang mempunyai sahala, dalam jiwanya sudah ditunjuk Yang Maha Kuasa mempunyai Dalihan Na Tolu. Sahala adalah karomah yang diberikan Allah SWT kepada seseorang, sehingga tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula. Syekh Ibrahim Sitompul mempunyai banyak kesaktian, setelah menjadi Sufi yang dimilikinya adalah istiqomah. Tidak lagi merasa dirinya sakti, hanya Allah lah yang sakti.

Setelah memahami dan mengimplementasikan semua ajaran mursyid ketika Ibrahim belajar tarekat, baik di Aceh maupun di Makkah, dia bisa membuka rahasia di balik kesaktian yang dimilikinya sebelumnya. Kemantapan yakin yang dimiliki Syekh Ibrahim, membuat dia dapat memadukan ilmu tarekat dengan pengamalan Dalihan Na Tolu menjadi sistim senjata sosialnya untuk menyatukan masyarakat di Residen Tapanuli guna melawan taktik pecah belah yang terus setiap saat diterapkan PHB dalam hubungan antar pribadi, kelompok marga, kelompok perkampungan masyarakat Batak.


 

Dilatarbelakangi sejarah perkembangan tasawuf dengan berbagai kritisi, tasawuf dapat bersinergi dengan ilmu fiqih yang kemudian melahirkan cabang ilmu tasawuf yang menekankan pada aspek ‘amali dan akhlaq perbuatan yang secara ketat dibentengi oleh pemahaman Al Quran dan hadits, tokohnya antara lain ibn Arabi dan ibn Al Faridl pada masa sekitar abad ke-7 Hijriyyah. Tasawuf secara akhlaq perilaku yang dipraktikkan, sebenarnya telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW, hanya saja istilah tasawuf secara keilmuan dan pengembangannya lebih lanjut terjadi pada masa setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Sampai dengan hari ini, tasawuf masih juga diperdebatkan, berkaitan dengan tasawuf identik dengan hal-hal mistik, berlebih-lebihan dalam meninggalkan duniawi, dan lain-lain tudingan miring tentang tasawuf. Namun, ke semua itu anggaplah penyimpangan dari ilmu tasawuf oleh oknum yang salah jalan, sehingga tidaklah pantas untuk menganggap bahwa jalan tasawuf itu sesat. Pengertian Tasawuf berasal dari akar kata benda “Shuff” yang berarti (pakaian) bulu domba. Kata kerjanya “Tashawwafa” memakai bulu domba (sebagai pakaian), dan orang yang memakai bulu domba sebagai pakaian disebut “shufi”.

Bulu domba pada masa lalu adalah lawan dari sutera. Jika sutera adalah bahan pakaian yang mahal, maka bulu domba adalah pakaian orang faqir. Maksud dari memakai bulu domba sebagai pakaian adalah, bahwa orang-orang yang menempuh jalan tasawuf (sufi), tidak mementingkan penampilan diri di hadapan manusia, melainkan menomorsatukan penampilan diri di hadapan Allah SWT. Aspek Tasawuf sebagai jalan, meliputi latihan batin yang kemudian dimanifestasikan dengan perbuatan lahir, akhlaq yang baik (ahlaqul


 

karimah), terus menerus berlatih sebagai bentuk penjagaan, karena meski telah bisa melewati tahapan- tahapan agar akhlaq menjadi baik. Sehingga bila dikaitkan dengan falsafah, pedoman Dalihan Na Tolu, akhlak lah diperlukan untuk membangun pelaksanaannya agar menjadi satu kekuatan.

Setelah enam tahun menikah dan semua kekuatan di Janjiangkola dan Pahae sudah terbangun, baik jaringan maupun murid-murid tarekat semakin besar, Syekh Ibrahim bergerak membangun kekuatan di Tarutung, Porsea, dan Balige. Perlu diketahui, bahwa sebelum Tuan Syekh memeluk Islam, sudah ada masyarakat di tanah Batak yang beragama Islam.

Namun, belum ada ulama orang Tapanuli Utara, sehingga dengan kedatangan PHB dengan program Kristenisasi, mereka banyak yang melarikan diri ke Asahan (sekarang terbagi dua, Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Asahan) dan membuat kerajaan di sana dan sebagian lari ke Labuhan Batu (sekarang dibagi tiga, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Labuhan Batu Induk dan Kabupaten Labuhan Batu Selatan).

Dalam rangka menghambat gerak maju penguasaan sumber daya di Indonesia oleh PHB, pada

16 Oktober 1905, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo. Organisasi ini merupakan organisasi yang pertama kali hadir di Indonesia hampir yang menyebar ke seluruh Indonesia, termasuk ke Residen Tapanuli.

Gerakan SDI menimbulkan kekhawatiran PHB, dimungkinkan SDI akan melakukan kerja sama dengan organisasi niaga Cina yang sangat variatif. Kelangsungan misi SDI diperlukan kerahasiaan, maka pada kongres pertama SDI di Solo 1906. Kongres memutuskan

merubah nama organisasi SDI menjadi Sarekat Islam (SI).

Organisasi yang mengambil nama Islam sangat tepat dalam perjuangan kemerdekaan di daerah, khususnya di Residen Tapanuli. Pada tahun 1915, SI memantau gerakan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul sedang mengangkat ekonomi masyarakat di Janjiangkola, sehingga dia diminta SI pusat menjadi Presiden SI di Tapanuli Utara.

Kesempatan menjadi Presiden SI, gerakan Tuan Syekh semakin hadir dalam hati masyarakat, tidak hanya yang sudah memeluk agama Islam, termasuk masyarakat yang memeluk agama lain, karena Tuan Syekh Ibrahim tetap mempedomani Dalihan Na Tolu dalam bergaul dengan masyarakat. Mendengar gerakan itu, banyak masyarakat mengucapkan, “Masih ada Putra Tapanuli Utara yang melanjutkan perjuangan Si Singamangara XII, semoga Tapanuli bebas dari penjajahan PHB.”

Setelah Syekh Ibrahim bergerak sampai ke Sibolga dan Baroes, terbukalah kesempatan yang lebih besar untuk mendorong semangat masyarakat untuk melawan PHB yang tidak menghargai hak azasi manusia, untuk merdeka. Momentum itu langsung dikembangkan dia ke seluruh Residen Tapanuli, sebagai sarana untuk membesarkan kekuatan. Bila saatnya dibutuhkan. Kesempatan itu juga dimanfaatkan Syekh Ibrahim mengadu kekuatan di luar Kampung Janjiangkola (tidak membawa masalah SI ke Janjiangkola, akan merusak sistem Dalihan Na Tolu) Ibrahim memilih salah satu rumah di Tarutung menjadi Kantor SI.

Legitimasi Syekh Ibrahim semakin kuat di mata PHB, sehingga ada perlawanan terhadap strategi adu domba. Syekh Ibrahim mempunyai kesempatan ke Barus untuk mengembangkan SI. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk membangun kekuatan Tareqat Naqsabandiyyah dan berhubungan dengan para pedagang, walaupun Barus tidak seramai sebelum tahun 1700. Beberapa pedagang dari Cina didekatinya, karena Syekh Ibrahim pandai Bahasa Cina, terjadilah hubungan usaha dengan pedagang. Hal ini juga dilakukan SI Pusat bekerja sama dengan pedagang Cina.

Adat-istiadat Batak bagi masyarakat muslim, umumnya menekankan pada aspek budaya, jati diri, politik, dan seremonial upacara-upacara adat. Sebaliknya, sedikit sekali berbicara hubungan, lebih- lebih interaksi antara adat dan Islam.

Adat yang dipahami masyarakat berkaitan dengan acara kegembiraan dan kemalangan. Semua acara adat bergerak menuju perubahan hidup. Perubahan tersebut dapat terjadi apabila ada keinginan adaptasi akibat sentuhan kebudayaan dan kekhususan satu sama lain, karena adanya ide-ide, kreativitas, yang diintegrasikan ke dalam kebersamaan dan persatuan serta karena harus terjadi proses saling interaksi antar individu dengan keharusan berjalannya istiadat manusia dalam Dalihan Na Tolu.

Akhirnya Tuan Syekh mempunyai pedoman untuk membina kekerabatan Dalihan Na Tolu, berdasarkan dari fungsi adat, ketika kegiatan itu dilakukan dengan pendekatan religius, maka acara diserahkan kepada Tokoh Agama (Pendeta atau Ulama). Ketika kegiatan itu dilakukan dengan pendekatan adat, maka diserahkan kepada Tokoh Adat.


 

Demikian Tuan Syekh memadukan ilmu ajaran Sufi Tarekat Naqsyabandiyah dengan ilmu ajaran Budaya Batak “Dalihan Na Tolu” untuk menyatukan motivasi perjuangan masyarakat Tapanuli dengan memantapkan persatuan dan kesatuan melawan taktik adu domba Belanda.

Anak-anak dan cucu Syèkh Ibrahim semua tidak ada yang tinggal di Janjiangkola, kecuali adiknya yang tidak mau memeluk Agama Islam, tinggal di Sarulla, di seberang kampung Janjiangkola.

Syèkh Ibrahim memanggil anak-anaknya satu per satu secara bergantian untuk minta maaf dan berpesan, “Anak dan cucuku mungkin tidak ada yang menjadi Syekh kecuali dari Boru ku (pihak menantu) marga Sitompul. Jangan tinggalkan salat dan zakat.”

Dua pesan itu selalu diulang-ulangnya pada saat mengumpulkan para jamaahnya antara salat Magrib dengan Isya.

Hingga saat wafat Syèkh Ibrahim masih tetap jadi Imam di Masjid Janjiangkola (Sekarang sudah dipugar dengan nama masjid Al Hamidi). 3 (tiga) hari akan wafat, Ibrahim melaksanakan salat di rumah, sambil berbaring. Imam masjid diserahkan kepada Berenya Malim Mubin Panggabean (dinaikkan Haji tahun 1999 oleh Penulis).

Setelah terbaring tiga hari di tempat tidur, fisik Syèkh Ibrahim tampak pulih. Kemudian dia mandi ke Air Panas di dampingi Berenya Malim Mubin Panggabean. Dengan menggunakan Tongkat berlekuk di ujungnya, Ibrahim berjalan sampai 2 (dua) Kilometer.

Kemudian mereka mengambil air wudu, dan melaksanakan salat  Subuh berjamaah.  Syèkh Ibrahim


 

membaca Surat Ar Rahman. Setengah Surat di rakaat pertama dan setengah surat pada rakaat ke dua. Setelah selesai berdoa untuk kedamaian Indonesia, mereka pun pulang ke rumah Syèkh Ibrahim.

Setelah sampai di rumah Syèkh Ibrahim, dia berkata selamat tinggal kepada berenya, teruskan memimpin salat dan pengajian di Janjiangkola, sambil menyerahkan tongkatnya kepada Malim Mubin di hadapan istri dan beberapa anaknya. Kemudian Syèkh Ibrahim masuk ke kamar tidurnya sambil berzikir;

Ilahi Anta Ma’sudi Wa Ridlha Matlubi, Atini Mahabbataka Wa Ma’rifataka.”

Artinya: Ya Allah, Engkaulah puncak tujuanku dan hanya ridhaMu yang kumohon. Berilah aku kecintaan dan kenal kepada-Mu.

Sampai beberapa lama, kopi yang disiapkan istrinya sampai dingin. Malim Mubin berdiri menemui istri Syèkh Ibrahim di dapur, dan berkata, “Nantulang, Tulang kok lama sekali keluar dari kamarnya?”

Istrinya berdiri, berjalan ke arah kamar Syèkh Ibrahim, ternyata Syèkh Ibrahim telah berpulang ke Rahmatullah. Mereka sama-sama menyebut potongan Firman Allah, dalam Surat (2) Al-Baqarah, Ayat 156.

Setelah semuanya siap, Murid-muridnya yang hadir, menggotong jenazahnya dengan berjalan kaki, persis di depan rumahnya. Rumah itu, Alhamdulillah masih ada sampai sekarang, kecuali Masjid Janjiangkola diganti nama dengan Masjid Al Hamidi.

Setelah sampai ke dekat persemayaman dekat Ayah dan Ibunya, Malim Mubin Panggabean mengucapkan salam kepada Almarhum/Almarhumah Ayah dan


 

Ibunya, Ibrahim bin Abdillah dimakamkan di sini, kemudian Jenazah Syèkh Ibrahim Sitompul dimakamkan di samping kedua orang tuanya.

Dalam usia ± 94 tahun, pada 8 Oktober 1956 (4 rabiul awal 1376 H) Tuan Syèkh kembali kepada Allah SWT. Almarhum Tuan Syèkh Ibrahim diketahui banyak orang hidup dalam dua zaman. Zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan, tetapi fisiknya masih seperti usia

60 tahun. Ia berjalan sebagai Sufi yang tidak pernah meminta kepada orang lain, bahkan dia selalu memberi kepada orang dan banyak mengasuh anak yatim kerabatnya, salah satunya Hajjah Riana Boru Panggabean, ibunda penulis.38

Semasa hidup Tuan Syekh menawarkan parsubang sebagai alat memupuk rasa solidaritas dan rasa identitas. Ada beberapa prinsip yang ditanamkan Tuan Syekh dalam mengikat rasa solidaritas dan identitas antara adat dan keislaman yang dianut Tuan Syekh Ibrahim Sitompul dalam interaksinya yaitu:

1.         Membangun Nagari dan sekitarnya menjadi lahan tempat beribadah guna menciptakan kebahagiaan semesta dengan mengerahkan semua potensi sumber daya di Tapanuli

2.       Membangun Nagari dan sekitarnya seperti danau yang tidak bahaya dari semua hewan melata dan penyakit, agar Nagari dan sekitarnya diupayakan menjadi tenteram, rukun, bekerja sama, tolong menolong dan saling gotong royong, tidak saling menipu, tidak ada pemerasan, tidak ada intimidasi. 

3.        Membangun Nagari desa dan sekitarnya seperti taman dan kebun yang tidak bernyamuk, bersih dan nyaman.

4.       Membangun Nagari desa dan sekitarnya kumpulan orang selalu mendengar dan saling memberi informasi serta menerima pendapat mewujudkan musyawarah dan mufakat

5.       Membangun Nagari desa dan sekitarnya diisi oleh orang-orang yang mengenal dan takut kepada Tuhan, tidak mengganggu hak orang.

6.       Kontribusi Syekh Ibrahim Sitompul adalah mengkombinasikan ilmu tasawuf Tariqat Naqsabaandiyah dengan falsafah dalihan natolu dalam merajut tatanan masyarakat yang damai, beragama dan beradat. Konsep tersebut dapat mengharmoniskan hubungan manusia kepada Allah dan hubungan sesama manusia.

Dari uraian di atas, bahwa santri Tapanuli Haromayn, memberikan kontribusi besar bagi pengembangan tradisi keilmuan di Nusantara. Bahkan jauh dari itu, memberikan kontribusi untuk dunia internasional. Kontribusi tersebut, bisa dilihat dari lembaga pendidikan yang didirikan di dalam dan luar negeri, sebagai tenaga pendidik dalam dan luar negeri, mewariskan tradisi keilmuan bagi para santrinya, melahirkan karya-karya tulis yang dibaca secara nasional dan internasional.

Posting Komentar

0 Komentar