Syekh Muhammad Baqi Hasibuan
Syekh Muhammad Baqi Hasibuan, lebih dikenal dengan sebutan Tuan Basilam pada jamannya adalah
seorang wali Allah, pemimpin thariqat Naqsyabandiah, ulama terkemuka khususnya di
Padangsidimpuan dan daerah Angkola.
Menyebarkan tarikat di daerah Tapanuli Selatan tetap akan tercatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah.
Selama perjalanan hidupnya
dihabiskan untuk menegakkan syiar agama dan mengajarkan tarekat.
Beliau telah membuka dan membangun sebuah desa di Sumatera Utara Kabupaten
Tapanuli Selatan dengan mendirikan Parsulukan dan Pesantren.
Ia lahir di Paran Batu Sibuhan pada tahun 1879 tepatnya
tanggal 5 Agustus, ayahnya bernama Jasuman dan nama ibunya Nandingin. Adalah nama beliau sewaktu kecil Ahmad Duroni dan beliaulah
sekarang yang dikenal
dengan Syekh Muhammad
Baqi Hasibuan.
Beliau lahir dari seorang ibu yang taat beribadah. Beliau tinggal bersama
ibunya sedangkan ayahnya
tinggal bersama ibu keduanya pada saat itu beliau masih kecil. Sehingga
dengan kondisi yang ditinggal ayah memaksa beliau sewaktu kecil untuk mencari
nafkah dengan ibunya.
Pada tahun 1912 beliau menyelesaikan pendidikan SD di Sibuhuan, pada waktu yang bersamaan beliau bertemu dengan pamannya yang baru pulang dari Basilam Langkat yang sudah tinggal di sana untuk menuntut ilmu selama 10 tahun. Setelah berulang kali bertemu dan berkomunikasi dengan pamannya, pamannya yang melihat Ahmad Duroni sangat rajin menjaga ibadah, seperti melaksanakan salat lima waktu dan rajin membaca Al-Quran. Melihat Ahmad Duroni memiliki suatu kelebihan karena terbiasa dengan menjaga salat lima waktu, maka atas dasar inilah pamannya mengajak beliau agar belajar ke Basilam Langkat.
Pada tahun 1937 beliau berangkat
ke Basilam Langkat
dengan menggunakan andong (pedati). Sesamapainya di sana beliau diterima untuk
menempuh pendidikan. Adalah pada
saat itu guru besar di Basilam Langkat adalah Syekh H. Yahya Afandi,
guru besar kedua di Langkat, yaitu anak kedua dari
Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi
An-Naqasabandy.
Melihat Ahmad Duroni, anak
yang taat menjaga salat lima waktu dan taat pada guru maka tahun pertama beliau berada di Basilam Langkat
beliau diajari ilmu torikot
dan ikut andil dalam pelaksanaan suluk atau berkhalwat walaupun usia beliau masih muda.
Setelah satu tahun menjalani pendidikan suluk, barulah beliau
belajar ilmu agama kepada Tuan Guru Syekh
H. Yahya Afandi. Dengan ketekunan dan akhlak
yang baik selama tiga tahun belajar bersama Syekh H. Yahya Afandi membuat
beliau menjadi murid yang sangat dicintai oleh gurunya, sehingga
di umur yang masih muda beliau diberi
gelar Khalifah Muda.
Setelah mendapat gelar maka beliau dipercaya memimpin rumah suluk di Basilam Langkat
selama dua tahun. Setelah
menetap di Basilam
Langkat selama
enam tahun, beliau berniat
kembali ke kampung
halamannya itu, Sibuhuan.
Juga di waktu yang bersamaan
gurunya menyuruh kembali
ke kampung halaman untuk mengajarkan ilmu tarikat
yang sudah dimilikinya.
Sebelum pulang ke kampung halaman,
beliau ditawari agar tetap menetap
di daerah Medan dan ditawari
dengan fasilitas mewah. Namun, beliau menolak
dengan alasan kembali ke kampung halaman untuk merawat
ibunya yang sudah berumur atau lansia.
Setelah keluar dari Basilam Langkat,
beliau pun menuju Hutatonga, yang pada saat itu
beliau singgah di Mesjid Hutatonga.
Setiap hari, setiap orang yang datang ke
masjid untuk beribadah selalu heran karena beliau selalu tafakkur. Hingga setiap orang yang datang ke masjid bertanya-tanya kapan beliau makan dan melakukan
pekerjaan selain tafakkur.
Setiap malam beliau mengikat kelambunya di sudut masjid dan
bertafakkur di sana. Karena herannya, orang-orang di sana pernah mencuri jam dinding di masjid
dan menuduh beliau yang mencurinya. Setelah berminggu-miggu
di dalam masjid, timbullah niat sang penjaga
mesjid untuk menegurnya yang pada saat itu bertepatan bermarga
Hasibuan.
“Dari manakah
Bapak berasal?”
“Saya berasal dari Basilam Langkat, Medan, yang bertujuan untuk mengajarkan tarikat.”
Setelah bertemu dengan penjaga masjid, beliau pun diizinkan untuk tinggal di rumahnya. Setelah orang-orang tahu bahwa beliau mengajarkan tarikat dan fiqh akhirnya orang-orang pun berdatangan untuk belajar bersama beliau.
Murid beliau pun mulai berdatangan dari kampung tetangga yang dekat dengan Huta Tonga hingga Sibolga untuk ikut pengajian bersama beliau. Oleh
sebab itulah, kenapa kampung
itu dinamakan Huta Tonga, karena
dahulu kampung itu merupakan pusat pengajaran ilmu agama pada
saat itu.
Setelah menetap beberapa tahun di Huta Tonga, keluarga beliau yang di Huta Tonga pun menjodohkan beliau dengan seorang
gadis Huta Tonga. Namun, beliau menolak karena beliau masih terfokus untuk menyebarkan
tarikat. Untuk kedua kalinya beliau juga dijodohkan dengan seorang wanita yang bertempat
tinggal di Sigalangan, beliau bernama Masrifah Siregar seorang
wanita sederhana yang menjadi istri beliau hingga
akhir hayatnya.
Setelah menikah beliau pun minta izin untuk pindah dan membeli sebidang
tanah dan membuka
pemukiman di sana yang sekarang kita kenal dengan nama Desa Basilam Baru. Secara etimologis, "basilam" berarti pintu kesejahteraan. Kampung ini
pertama sekali dibangun oleh Almarhum Syekh Muhammad Baqi Hasibuan
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Basilam. Ia adalah seorang
Ulama dan pemimpin
Tarekat Naqsabandiyah.
Di desa ini terdapat makam Syekh Muhammad
Baqi Hasibuan yang dikenal juga dengan Tuan Basilam yang merupakan murid dari Almarhum
Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan. Di tempat inilah beliau mengembangkan ilmu tarikat Naqsabandiyah sekitar tahun 1950.
Pada awalnya tempat itu disebut beliau kebun yang dipenuhi pohon pisang, rawa, dan batang
ijuk. Setelah orang-orang ramai
tinggal di sana barulah kampung itu dinamakan
Basilam Baru, penamaannya yang
diambil dari tempat menuntut ilmu beliau
Basilam Langkat.
Basilam Baru diapit oleh 2 kerajaan itu Kerajaan Sipakko dan Kerajaan Huta Tonga. Pada awalnya Raja Huta Tonga dan Raja Sipakko tidak
mengizinkan beliau untuk mendirikan kampung sehingga pada akhirnya membuat perseteruan antara Raja Sipakko,
Raja Huta Tonga, dan Syekh Muhammad
Baqi.
Sehingga camat pada saat itu memanggil beliau beserta Raja Sipakko dan Raja Huta Tonga. Yang menjadi camat pada waktu itu bermarga
Hutagalung dan juga beragama Kristen.
Sehingga beliau beserta
Raja Huta Tonga dan Raja Sipakko dipanggil menghadap lalu di saat itulah batas dari daerah Sipakko dan Huta Tonga ditentukan. Dan sejak itulah di ketahui bahwa Basilam itu berdiri di
sebagian daerah Huta Tonga dan
sebagian di daerah Sipakko. Dan itulah alasan mengapa
pada awalnya beliau sangat dibenci
oleh masyarakat Huta Tonga dan Sipakko.
Namun, dengan banyaknya perubahan yang terjadi di Basilam Baru membuat masyarakat Huta Tonga dan Sipakko
mulai masuk ke Basilam Baru.
Hal pertama yang beliau lakukan setelah pindah ialah mendirikan rumah dengan 7 anak tangga dengan seiring
mendirikan surau tempat salat dan tempat tafakkur
beliau. Karena pada saat beliau
pindah bersama istrinya
tempat itu masih hutan belantara
sehingga genangan air pun masih banyak. Itulah alasan beliau mendirikan rumah dengan 7 anak
tangga.
Setelah tinggal di Basilam Baru, beliau selalu
berangkat menuju pengajiannya dengan jalan kaki, beliau berangkat sebelum Magrib sebelum
cuaca gelap.
Pernah ketika beliau belum pulang dari pengajiannya, preman-preman Huta Tonga berniat untuk mengganggu istri beliau yang tinggal
di rumah sendirian. Namun, niat mereka terbengkalai karena mereka melihat harimau di bawah rumah beliau.
Di suatu ketika seseorang ingin mencuri pisang di kebun beliau, tetapi tidak jadi mencurinya
karena dia melihat beliau berada di
sana sedangkan menurut orang banyak beliau sedang duduk
di depan rumahnya.
Setelah beberapa lama menetap di Basilam Baru beliau pun mengimpakkan tanahnya bagi siapa saja yang mau tinggal
di sana untuk dijadikan tempat tinggal dengan syarat tidak boleh dijual.
Setelah itu dibukalah pemukiman pada tahun 1927. Pada awalnya tidak ada orang Huta Tonga ataupun Sipakko
yang ikut bergabung
dengan beliau. Orang pertama yang mau tinggal
di sana adalah orang Bintujuh,
Pasir, HutaLombang, Muaratais, dan Mandailing.
Pembangunan di Basilam Baru pun dimulai dengan
mendirikan masjid dan rumah suluk (tempat berkahlwat) di tahun 1952. Parsulukan (rumah suluk) yang didirikan pada tahun 1930 di buka 2
kali dalam setahun tepatnya
di bulan Ramdhan
dan bulan Dzulhijjah. Dalam perkhalwatan ini tarikat yang di bawakan
adalah tarikat naqsabandiyah.
Karena sudah menetap di Basilam Baru beberapa tahun lamanya. Syekh Muhammad Baqi pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di Basilam Baru. Lalu, berangkatlah ibu beliau dari Sibuhuan menuju Basilam Baru dan menetap di sana. Tak berapa lama tinggal di sana ibu beliau pun meninggal di usia 95 tahun yang dipangku oleh anak kesayangannya.
Syekh Muhammad Baqi Hasibuan memiliki
dua istri dan memiliki enam
orang anak. Istrinya bernama Hj.
Syarifah Siregar dan Hj. Maimun. Dari istrinya yang pertama beliau lahir enam orang anak, tetapi istri kedua beliau
tidak memiliki anak. Anak-anak beliau
ialah:
1. Muhammad Nuh Hasibuan (alm),
2. Ibu Rukimah
Hasibuan (alm),
3.
Muhammad Yahya Hasibuan
(alm),
4. Sori Alam Hasibuan,
5. Sorimina Hasibuan,
6. Ahmad Zubeir
Hasibuan (alm).
Pada saat anak kedua lahir, berangkatlah beliau
menuju tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Pada saat beliau naik haji, saat
itu ongkos naik haji Rp. 250,- yang
pada saat itu raja Pijor Kolinglah yang membantu beliau untuk berangkat
ke tanah suci. Di samping
melaksanakan ibadah haji, beliau juga menuntut ilmu di
Kota Makkah.
Sepulang dari Kota Makkah, beliau mengajarkan ilmu tariqat di masjid Syekh Zainal Abidin Pudun, Padangsidimpuan dan di Basilam
Baru Padangsidimpuan. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah.
Pada tahun 1991 tepatnya ditanggal 17 Juni bertepatan 3 DzulHijjah, beliau mengembuskan napas yang terakhir. Beliau meninggalkan enam orang anak. Sejak saat itu, setiap tanggal wafatnya 3 DzulHijjah selalu diadakan Khatam Al-Quran, dzikir bersama, pembacaan takhtim dan tahlil atau yang diistilahkan dengan Haul Syekh Muhammad Baqi Hasibuan. Acara haul ini dihadiri oleh masyarakat sekitar, Pondok pesantren se-Tapanuli Selatan, undangan dari pemerintahan dan murid-murid beliau yang tersebar khususnya di daerah Tapanuli Selatan.
.jpg)
0 Komentar