Biodata Singkat Syekh Abdul Muthalib Manyabar (1874- 1937)

 Syekh Abdul Muthalib Manyabar (1874- 1937)

Syekh Abdul Muthalib Manyabar adalah seorang yang gigih dalam hidup dan menuntut ilmu. Ia seorang piatu. Ayahnya Japidondang. Masa kecilnya dihabiskan sebagai pengembala kerbau-kerbau milik Jaminiangi di Padang Rumput Siladang.

Pada usia 12 tahun merantau ke Deli mengikuti abangnya, Abdul Latif. Ia bekerja sebagai penyabit rumput untuk makanan kuda bendi yang ketika itu menjadi angkutan umum di Medan. Usahanya meningkat bersama abangnya. Mereka menjual kain ke perkebunan-perkebunan di Tanah Deli.

Pada usia 17 tahun 1864, ia naik haji atas biaya sendiri dari hasil tabungan usahanya sendiri.

Selama 10 tahun, 1864-1874, belajar di Makkah dan menjadi musafir menziarahi Baitul Maqdis. Ia belajar terikat Naqsyabandiyah di Jabal Qubeis. Syekh Abdul Muthalib Manyabar bermukim 50 tahun di Makkah, yang melahirkan 6 putera-puterinya.

Sedangkan istri keduanya dari Manambin yang dinikahinya di Kelang, Tanah Semenanjung, melahirkan

2 orang anak. Ia mendirikan rumah di Makkah yang sampai kini masih ada. Ulama yang sering kali pulang kampung kini kembali dan menetap di Manyabar pada tahun 1923 bersama seluruh keluarganya.

Ulama terikat ini menyebarkan agama di daerah Mandailing, khususnya Barbaran, Hutabargot, Mompang Jae, Laru, Tambangan, Simangambat,


Bangkudu, Raorao, dan Siladang. Ulama inilah yang menemukan mata air di Aek Banir yang digunakan untuk bersuci mengambil wudu sebelum salat. Sehingga penduduk di daerah itu yang sebelumnya tidak menunaikan salat dengan alasan karena ketiadaan air akhirnya dapat melaksanakan salat dalam keadaan suci.

Pada tahun 1937, saat itu Syekh Abdul Muthalib genap berumur 90 tahun, beliau pun dipanggil Yang Maha Kuasa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa diaspora Santri Tapanuli menemukan titik momentumnya setalah abad ke-19 atau sekitar tahun 1850, bersamaan dengan semakin mantapnya Islam di Tapanuli.

Sepulangnya para santri senior dari Kota Makkah, maka banyak santri lain yang melanjutkan studinya ke Haromayn. Salah satu Madrasah yang paling banyak didatangi santri Tapanuli adalah Shaulatiyah, ada juga yang belajar di Masjidil Haram, Madarasah Darul Ulum dan Al-Falah.

Pembentukan jaringan tradisi keilmuan dapat dilihat dari posisi sentral Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Mandailing Natal. Dari pesantren tersebut, Syekh Musthafa Husein, berhasil mendidikan santri dan selanjutnya terbentuk jaringan keilmuan santri Tapanuli ke Haromayn.

Santri yang kembali dari Haromayn ke Haromayn membentuk jaringan tradisi keilmuan nusantara. Misalnya saja Syekh Juned Thala, menjadi ulama di Malaysia mendirikan Madrasah Arabiyah Kampung Lalang, tahun 1930. Selanjutnya Syekh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib al-Mandiliy, melahirkan sejumlah karya yang dibaca para santri calon ulama nusantara dan mengajar di Masjidil Haram terutama santri yang datang dari nusantara.

 

Posting Komentar

0 Komentar