Santri Haromayn


  

 Santri Haromayn 

Pada buku Ensiklopedi Ulama Nusantara, setebal 865 halaman, hanya satu ulama asal Tapanuli, yakni Syekh Musthafa Husein yang disebut dalam Ensiklopedi tersebut. Padahal kalau dilacak lebih serius, lebih dari 50 Syekh dan ulama yang berasal dari Tapanuli.

Pada umumnya mereka itu, juga menimba ilmu di Timur Tengah, khususnya di Kota Makkah dan Madinah. Hal inilah yang membawa berpengaruh besar terhadap tradisi keilmuan Nusantara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para santri dari Indonesia banyak yang studi ke Haromayn, bahkan ada yang sempat bermukim di Timur Tengah untuk mendalami ilmu pengetahuan dan sekaligus menjadi ulama di sana. Di antaranya adalah:

1.         Syekh Juneid al-Batawi, lahir di Pekojan dan meninggal pada tahun 1840 pada usianya 100 

saja pulang kampung untuk beberapa bulan dan kembali ke Makkah belajar dengan sungguh-sungguh, akhirnya menjadi ulama besar di Kota Makkah. Di antara murid- muridnya:

a)       Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin

b)      Syekh Hasyim Asyh’ari

c)       KH. Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912

d)      Hasyim Asyh’ari, mendirikan NU pada tahun 1926

4.       Selain itu, ulama yang belajar ke Kota Makkah adalah Syekh Mahfudz al-Turmusi dari Tremas Pacitan, Syekh Muhtaram dari Banyumas, Syekh Asyari dari Bawean, dan Syekh Abdul Hamid dari Kudus, mereka sekaligus menjadi guru di Kota Makkah.2

Berdasarkan riset Azra tentang Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara..., menginformasikan sejumlah ulama yang pernah belajar di Kota Makkah dan Madinah, di antaranya:

1.         Nuruddin al-Raniry

2.       Abdudushamad al-Palimbani

3.        Yusuf al-Maqassari

4.       Abdurrauf al-Singkili

5.       Arsyad al-Palimbaniy

6.       Dawud al-Palimbani

7.       Arsyad al-Banjariy

Para ulama di atas memberikan corak warna keilmuan ke Nusantara dan terkoneksi langsung dengan Timur Tengah, Makkah, dan Madinah.

 

2Azyumardi Azra, Jaringan Ulama’ Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII, (Jakarta: Kencana, 2013), h. 53-118.


 

Banyak di antara mereka yang berguru kepada Ibrahim al-Qurani, Ahmad al-Qushashi, Shihabuddin al-Ramli, Ibnu hajar al-Asqalani, dan Zakariya Anshari. Ulama-ulama tersebut meski lama belajar di Kota Makkah, tetapi kembali ke Nusantara untuk mentransmisikan ilmu mereka kepada pelajar di daerahnya masing-masing.3

Di samping itu, dalam buku Shafhat Min Tarikh Makkah al-Mukarramah, ada sejumlah ulama yang belajar di Kota Makkah pada abad ke-19 dan berkiprah di sana, yaitu Nawawi al-Jawi, Ahmad Khatib Syambas, Ahmad Sulaiman al-Minangkabawi, Ahmad bin Hamid al-Quds, Muhammad Syazali, Abdul Haq al-Jawi, Nur Ismail al-Khalidi, Marzuqy al-Jawah, Abdul Qadir al- Mandili, Ali bin Abdul Qadir uds, Abdul Ghani Bima.4

Selanjutnya, ulama-ulama dari Sumatera Utara yang belajar ke Timur tengah di antaranya;

1.         Syeikh Hasan Ma’sum, gelar Imam Paduka Tuan, lahir di Labuhan Deli pada tahun 1884 (1302), belajar ke Kota Makkah tahun 1895 pada usia 10 tahun, beliau belajar kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minagkabawiy, Syekh al-Fadhil h. Abd. Salam, Syeikh Ahmad Khayyath, Syekih A. Mailiki, Syeikh Saleh Baffadil, Syeikh Amin Ridwan, (Institut Agama Islam Negeri al-Jamiah Sumataera, Medan, 1975, h. 7-10 )

 


3Azyumardi Azra, Jaringan Ulama... h. 53.

4Snouck Hurgronje, Shafhat min Tarikh Makkah al-Mukarromah, Tarj. Lughah Arabiyah, Muhammad Mahmud al-Suryaniy wa Mi’raj Nawab Mizda, AL-Mamlakah al-Arabiyah al-Su’udiyyah, (Darul Malik ‘Abdu al-Aziz, 1999), h. 541-634.


 

2.       Syekh Musthafa Husein lahir di Pasar Tanobato Kayu Laut tahun 1886 M (1303), belajar ke Kota Makkah pada tahun 100 selama 12 tahun, di antara guru-gurunya: Syeikh Abdul Qadir al- Mandiliy, Syekh Muchtar Bagas, Syekh Ahmad Sumbawa, Syeikh Salih bafadil, Syeikh Ali Maliki, Syekh Umar Bajuned, dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawiy,

3.        Syekh Muhammad Ja’far Abdul Qadir lahir di Kota Makkah pada tahun 1314 H (1819 M) putra dari Syekh Abdul Qadir berasal dari Huta Siantar Panyabungan bernarga Nausion,

4.       Syeikh Haji Muhammad Arsyad Thalib Lubis, lahir tahun 1908 di Stabat Kabupaten Langkat,

5.       Syeikh Ismail bin Abdul Wahab, lahir di Kom Bilik (Bagas Asahan) Tanjung Blai pada tahun 1897. Belajar ke Kota Makkah paada tahun 1925 salama 5 tahun, dan melanjutkan studinya ke al- Azhar Kairo hingga pada tahun 1936 lulus memperoleh syahadah Alimiyah,

6.       Syeikh Abdul Wahab Besilam, lahir pada tahun 1817 M di Kampung Runda Rantau benuang Sakti Propinsi Riau, belajar ke Kota Makkah pada tahun 1848 M, di antara guru-gurunya: Syekh Muhammad yunus bi Abdurrahman batu Bara Asahan, Syeikh Sulaiman Zuhdy Mekkah, belajar di Kota Makkah selama 6 tahun. (Institut Agama Islam Negeri al-Jamiah Sumatera Utara, Medan, 1975).

Berdasarkan Riset yang dilakukan Erawadi, mengungkapkan bahwa, sebagaian ulama Batak Mandailing-Angkola tidak langsung belajar ke Haromayn (Mekah-Medinah) dan Mesir, tetapi mereka menjadikan Semenanjung Melaya, Malaysia, sebagai


 

‘tempat belajar antara’ sebelum pergi ke Haromayn dan Mesir. Mereka antara lain:

1.         Ahmad Daud Siregar, Muktar Harahap

2.       Muhammad Daud Hasibuan

3.        Abdul Qadir bin Abdul Muthallib bin Hassan

4.       Juneid Thola

5.       Muhammad Yunus

6.       Abdul Halim Lubis

7.       Usman

8.       Lobe Umar.

Mereka belajar di berbagai pondok di Semenanjung Melayu, terutama di Kedah, Perak, Negeri Sembilan, dan Kelantan. Kemudian, sebagian mereka, setelah belajar di Haromayn dan Mesir, tidak kembali ke tanah airnya, Mandailing-Angkola, tetapi mengabdi di Semenanjung Melayu.5

Bila ditinjau lebih lanjut, banyaknya ulama Tapanuli ke Timur Tengah menunjukkan bahwa jauh sebelum tahun 1900, Makkah telah menjadi pusat pendidikan Islam. Ulama Tapanuli saat itu, umumnya melanjutkan studi ke Makkah untuk memperdalam keilmuan, mendapatkan gelar haji, dan otoritas keilmuan yang diyakini umat.

Eksistensi Makkah sebagai tujuan tempat belajar ulama Tapanuli, tentu memiliki karakteristik keilmuan tersendiri, yang mempengaruhi keilmuan ulama Tapanuli yang kelak mempengaruhi corak keilmuan Nusantara. Tentu saja, ulama yang terlibat dalam

 

jaringan yang berbeda bukan hanya dalam latar belakang geografis, yang memiliki tradisi-tradisi kecil Islam (Islamic little tradition) dari mereka sendiri, tetapi hal yang lebih penting adalah dalam preferensi religio intelektual mereka yang tercermin dalam afiliasi mereka dalam mazhab dan tarekat sufi.

Hal ini penting ditelusuri dari kitab-kitab klasik yang mereka tulis, peninggalan, ahli waris yang terkait menjadi referensi yang amat penting dalam mengkaji Diaspora Santri ke Timur Tengah secara komprehensif.

 

Posting Komentar

0 Komentar