Jaringan Keilmuan Santri Tapanuli
Diaspora dan pembentukan jaringan keilmuan santri
Tapanuli ke Haromain
dapat dilihat dari banyaknya
santri yang melanjutkan studi ke Haromain. Umumnya santri Tapanuli melanjutkan studi ke Madrasah
Shalatiyah Makkah, Darul Ulum dan Madrasah Al-Falah.
Ada dua figur sentral santri Tapanuli, yang bisa dijadikan tokoh kunci penyebaran tradisi keilmuan, yaitu Syekh Abdul Qadir al-Mandiliy dan Syekh Musthafa
Husein al-Mandily. Kedua tokoh kunci ini, berasal
dari Tapanuli Mandailing Natal.
Tentunya keberhasilan santri Tapanuli yang studi ke Haromain, karena mereka berguru
langsung terhadap tokoh-tokoh ulama besar Nusantara
dan Internasional di antaranya:
1.
Syekh Umar Hamdan,
2. Syekh Muhammad
Muhktar Bogor,
3.
Syekh Hasan Masseg,
4. Syekh Saed Mukhsin,
5. Syekh Abdullah al-Bukhari,
6. Syekh Abdul al-Pasri,
7. Syekh Abdul
Kadir al- Mandiliy,
8. Syekh Ahmad Bogor,
9. Syekh Ali Maliki,
10. Syekh Muhammad
Saed al-Yamani,
11.
Syekh Saed,
12. Syekh Jamal,
13. Syekh Abdul Mukhsin,
14. Syekh Mariki,
15. Syekh Ahmad Hamid Tiji,
16. Syekh Abdullah Bin Ibrahim As- Sunnari,
17. SyekH Muhammad
Muhyiddin Ahmad Hamid,
18.
Syekh Muhammad Toyyib bin Ahmad Al- Marokisyi,
19. Syekh ‘Umar
bin Hamdan Al- Mahrusi At- Tunisi,
20.
Syekh Muhammad ‘Arobi bin At- Tabbani As- Sathifi Al- Jazari,
21. Syekh Hasan Hasanain,
22.
Syekh Muhammad Muhyiddin
Ahmad Hamid,
23. As- Sayyid
‘Alawi bin ‘Abbas Al- Maliki,
24.
Syekh Ahmad Sulaiman
An-Nuri,
25. As-Sayyid Muhammad
Amin Kutubi,
26.
Syekh Abdurrahman bin ‘Isa Al- Hamadan,
27.
Syekh Muhammad Thoyyib
bin Muhammad Al- Marokisyi,
28. Syekh Ka’ki,
29.
Syekh Muhammad Yahya,
30.
Syekh Muhammad Arobi bin At- Tabbani As- Sathifi Al- Jazairi,
31. Syekh Salim
Shafa,
32. Syekh Muhsun bin Muhammad
Amin Ridhwan,
33. Syekh Ahmad
Khatib al-Minangkabawiy.
Pembentukan
jaringan tradisi keilmuan
dapat dilihat dari posisi sentral
Pesantren Musthafawiyah
Purba Baru
Mandailing Natal. Dari pesantren tersebut, Syekh
Musthafa Husein, berhasil mendidik santri dan
selanjutnya terbentuk jaringan keilmuan santri Tapanuli ke Haromain.
Santri yang kembali
dari Haromain membentuk
jaringan tradisi keilmuan
nusantara. Misalnya saja Syekh Juned Thala, menjadi
ulama di Malaysia
mendirikan Madrasah Arabiyah Kampung Lalang, tahun 1930. Selanjutnya Syekh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib
al-Mandiliy, melahirkan sejumlah karya yang dibaca
para santri calon ulama nusantara dan mengajar
di Masjidil Haram terutama santri yang datang dari Nusantara. Demikian juga ulama Tapanuli, seperti
Syekh Usman Ahmad Dawud, menjadi guru ilmu falak di Malaysia.
Kontribusi santri Tapanuli Haromain bagi tradisi keilmuan nusantra dapat dikemukakan sebagai
berikut:
1.
Menjadi ulama memberikan pencerahan rohani bagi umat dan masyarakat di kampung
halaman masing-masing,
2.
Menciptakan regenerasi keilmuan
Islamic Studies,
3.
Membentuk sistem keilmuan
dan kepribadian para santri yang kuat
dari sagi akidah
Islamiyah,
4.
Memproduksi sejumlah besar lulusan yang memiliki sistem keilmuan, corak pemahaman keislaman, dan watak kepribadian yang
kurang lebih sama antara satu sama lain alumni,
5. Banyak melakukan aktivitas sosial keagamaan di tengah masyarakat Mandailing. Karena aktivitas tersebut, para santri menempati posisi strategis sebagai agent of change di tengah masyarakat,
6. Dalam situasi perkembangan sosial yang terus berubah dari zaman ke zaman masyarakat, santri Tapanuli Haromain memberikan apresiasi yang berbeda terhadap misi dan usaha-usaha yang diperoleh oleh alumni Haromain,
7. Menjabarkan pengetahuan dan keterampilan menjawab persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat,
8. Melahirkan karya-karya brilian di bidang Islamic Studies
yang tetap digunakan
oleh santri berikutnya sampai sekarang,
9.
Mendirikan lembaga pendidikan yang santrinya datang
dari berbagai penjuru
Nusantara,
10. Mendirikan perguruan Tinggi di Tapanuli,
11.
Menduduki jabatan sentral
di pemerintahan,
12. Mendirikan masjid dan fasilitas
keagamaan lainnya,
13.
Sebagai tenaga pendidik diNusantara dan Masjidil Harom.
.jpg)
0 Komentar