Syekh H Junaid Thola Rangkuti
Syekh H Junaid Thola Rangkuti lahir pada tahun 1886 M di Hutadolok, Kenegerian Maga, Kotanopan, Mandailing Natal. Sumber lain menyebutkan, tokoh yang pernah menjabat
anggota Majelis Ulama Negeri Perak
itu lahir pada tahun 1897 M. Keterangan itulah
yang kemudian disetujui dalam sebuah seminar sejarah di Panyabungan pada tahun 2000. Kegiatan
ilmiah itu digelar Angkatan
Belia Islam Malaysia
(ABIM) yang bekerja
sama dengan IAIN—kini
Universitas Islam Negeri—Sumatra Utara, Pemerintah Kabupaten
Mandailing Natal, serta Pengurus Perwakafan Syekh al- Junaid.
Syekh Haji Junaid Thola Rangkuti. Pendiri Pondok Pesantren Junaidiyah itu tidak hanya berkiprah di Indonesia, tetapi juga Malaysia,
khususnya negara bagian Perak. Sebab, dalam sebuah fase
hidupnya sang alim pernah terusir dari tanah kelahirannya sendiri akibat penindasan
kolonialisme. Dari Sumatra, dirinya hijrah ke Semenanjung Melayu.
Oleh karena itu, namanya barang kali lebih dikenal di negeri jiran daripada Indonesia. Alumnus Mesir tersebut
dikenang sebagai pendorong
gerakan pendidikan dan
filantropi Islam di Perak. Sahabat Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki al-Azhari—sosok pertama
yang menerapkan hisab untuk penentuan awal bulan Hijriyah di Nusantara—itu juga turut menyebarkan gagasan modernisme Islam di dunia
Melayu.
Junaid Thola tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Kedua orang tuanya selalu mengutamakan nilai-nilai keislaman. Dengan tempaan
mereka, ia pun menjalani masa anak-anak dan remaja dalam koridor
tuntunan agama.
Sejak kecil, dirinya telah menggemari belajar.
Semangatnya tinggi dalam menuntut ilmu-ilmu agama.
Saat berusia tujuh tahun, ia memulai pendidikan formalnya di sekolah rakyat atau volkschool setempat. Sejak kecil, dirinya
telah menggemari belajar.
Semangatnya tinggi dalam menuntut ilmu-ilmu agama. Saat berusia tujuh tahun, ia memulai pendidikan formalnya di sekolah
rakyat atau volkschool setempat.
Begitu lulus pada tahun 1906, Junaid muda kemudian belajar
pada seorang ustaz yang bernama
Lobe Hasan. Atas saran gurunya
itu, ia memutuskan untuk merantau
ke Langkat, Sumatra
Utara, guna memperdalam ilmu keislaman di Pondok Pesantren
Babussalam Tanjung Pura.
Waktu itu, kebanyakan kaum terpelajar Muslim di Sumatra Utara sudah menjalin relasi dengan kolega- kolega mereka di Semenanjung Melayu.
Waktu itu, kebanyakan kaum terpelajar Muslim di
Sumatra Utara sudah menjalin relasi
dengan kolega-kolega mereka di Semenanjung
Melayu. Tidak sedikit ulama dari Pulau Andalas
yang mengajar di Malaya. Demikian pula, ada banyak
santri dari Negeri Jiran yang menimba ilmu di
Medan atau Langkat.
Junaid muda pun ikut dalam jaringan keilmuan tersebut. Dari Tanjung Pura, ia menyeberangi Selat Malaka untuk tiba di Negeri Kedah. Di daerah yang kini menjadi negara bagian Malaysia itu, ia belajar di Pondok Gajah Mati. Institusi pendidikan tersebut kala itu diasuh seorang mubaligh kenamaan, Haji Ismail bin Mustafa al-Fathani atau yang akrab disapa Tuan Guru Haji Cik Doi.
Salah satu sunah yang bermuatan
sosial dalam ajaran Islam ialah wakaf. Dalam berdakwah,
Syekh Haji Junaid Thola Rangkuti sering mengingatkan kaum Muslimin akan pentingnya berwakaf.
Tidak hanya menasihati secara lisan, ulama kelahiran Mandailing Natal, Sumatra Utara, itu juga memberikan contoh melalui tindakan
nyata.
Misalnya menggerakkan wakaf sehingga terkumpul dana yang cukup untuk mengembangkan lembaga- lembaga pendidikan. Kisahnya bermula saat sekolah yang dirintisnya, Madrasah
Junaidiyah, memerlukan perluasan
lahan. Sebab, kelas-kelas yang ada sudah tidak
mampu lagi menampung jumlah santri yang kian
membeludak. Untuk mendirikan gedung madrasah yang baru, masyarakat pun ikut bergotong
royong. Hingga akhirnya,
pada 1929 madrasah
itu resmi berdiri.
Gerakan wakaf yang dijalankan oleh Syekh Junaid tersebut tidak hanya di kalangan
masyarakat lokal Mandailing, tetapi juga seluruh
Sumatra dan bahkan
hingga Malaysia. Di samping itu, ia juga mendirikan beberapa lembaga sosial-ekonomi dari
hasil wakaf yang dikumpulkannya. Di
antaranya adalah pasar wakaf di Hutanamale. Dengan gerakan itu, Hutaname
akhirnya menjadi sebuah daerah dengan perputaran ekonomi
yang cukup mapan.
Syekh Junaid Thala sendiri banyak terlibat dalam produksi minyak nabati, seperti
minyak nilam dan produksi sepatu yang bahan bakunya
diambil dari kebun wakaf yang menjadi
modal ekonomi masyarakat. Pembangunan sosial yang madani ini akhirnya
diteruskan oleh para generasi penerusnya.
Setelah puluhan tahun membimbing masyarakat, Syekh Junaid Thala dipanggil oleh Allah SWT, tepatnya pada Selasa, 30 Maret 1948 atau bertepatan dengan 20 Jumadil Awal 1367 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di halaman Madrasah Al Junaidiyah yang telah dibangunnya.
.jpg)
0 Komentar